Rabu, 27 Januari 2016

Awas, Makanan Ini Bisa Jadi Rezekinya Setan

Setiap makhluk Allah pasti diberi rezeki. Tidak hanya bagi ciptaan-Nya yang patuh, Allah pun memberikan rezeki kepada makhluk pembangkang dan penyesat manusia yakni setan laknatullah. Ternyata setan memiliki pola kehidupan menyerupai manusia.

Mereka makan dan minum seperti kita. Bahkan setan juga melakukan jima, dan berbagai aktivitas lainnya. Namun apakah di dunia gaib juga tersedia makanan layaknya dunia manusia? Dari manakah setan ini mendapatkannya? 

Ternyata setan dan kawanannya juga memperoleh rezeki dari setiap makanan yang dikonsumsi oleh manusia. Namun bagaimana bisa makanan yang kita konsumsi bisa menjadi sumber rezekinya mereka? Berikut informasi selengkapnya. 
Kepada Allah Ta’ala, iblis berkata, “Tuhanku, semua makhluk telah Engkau jelaskan rezekinya.” Pungkas makhluk terlaknat ini seraya sampaikan tanya, “Di manakah rezeki bagiku?”

Dalam lanjutan hadits yang diriwayatkan oleh adh-Dhiya’ dari Sa’id bin Jubair yang mendapatkan riwayat ini dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah Ta’ala berkata (menjawab pertanyaan setan tentang rezeki bagi mereka), ‘Di dalam makanan yang tidak disebutkan nama-Ku.’”

Merujuk pada makna kalimat ‘makanan yang tidak disebutkan nama-Ku (Allah)’, maka semua jenis makanan baik yang halal sekalipun jika dikonsumsi manusia tanpa melafalkan bismillah maka makanan tersebut termasuk dalam kategori rezeki setan.

Ditegaskan dalam riwayat lain, bahwa setan juga memakan kacang sebagaimana disampaikan oleh ‘Umar bin Khaththab. Ia bertanya kepada seseorang yang pernah ditawan bangsa jin, “Apakah makanan mereka?”

Yang ditanya sampaikan jawaban, “Kacang, dan apa yang tidak disebutkan nama Allah Ta’ala (saat memakannya).”

“Apa minumannya?” tanya ‘Umar lagi. Lalu dijawab, “Jadaf.”

Jadaf ditafsirkan sebagai tumbuhan di Yaman yang tidak perlu menggunakan air untuk memakannya, atau makanan yang bisa dimakan oleh unta dan tidak butuh air setelah memakannya, atau minuman yang tidak membuat peminumnya tersedak.

Selayaknya rezeki bagi manusia yang berbentuk makanan, ada pula jenis bahan tertentu yang dijelaskan sebagai makanan (rezeki) bagi bangsa setan ini. Hal ini disimpulkan dari hadits yang dishahihkan oleh Imam Muslim sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Mas’ud.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada bangsa jin, “Setiap tulang yang tidak disebutkan nama Allah Ta’ala yang jatuh ke tanganmu adalah daging yang paling baik untukmu.”

Lanjut baginda yang mulia, “Dan setiap kotoran binatang adalah makanan binatangmu.”

Kemudian, baginda Nabi menghadap ke arah para sahabatnya yang mulia. Beliau berpesan, “Jangan gunakan keduanya (tulang dan kotoran hewan) untuk membersihkan kotoran. Karena keduanya adalah makanan saudara-saudaramu.”

Demikianlah informasi mengenai rezeki untuk setan yang ternyata adalah setiap makanan yang dikonsumsi tanpa terlebih dahulu melafalkan bismillah. Oleh karena itu, sebagai muslim yang beriman hendaklah kita senantiasa membaca bismillah ketika hendak melakukan atau mengonsumsi sesuatu agar tidak menjadi rezeki bagi setan.

Baca Doa Ini Agar Hati Menjadi Teguh

Hati merupakan bagian yang paling penting dalam tubuh manusia. Ia memiliki kedudukan yang tinggi dan menjadi tempat datangnya cahaya ilahi. Bagi mereka yang berfungsi hatinya, maka ia akan berhasil mengenali diri dan Tuhannya.

Namun, hati begitu mudah terbolak balik. Dalam satu kondisi, bisa saja seseorang menjadi begitu taat terhadap keimanannya. Akan tetapi, manusia dengan tingkat keimanan rendah bisa dengan cepat tergoda bujuk rayu iblis. 

Hal ini disebabkan karena tidak memiliki ketetapan dan keteguhan hati. Ternyata ada doa yang bisa dibaca agar hati menjadi lebih teguh. Doa-doa ini diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW agar iman umatnya tidak mudah goyah. Bagaimana bacaan doanya? Berikut informasinya.

1. H.R. Muslim
Rasulullah SAW adalah sosok teladan umat manusia. Meskipun merupakan makhluk Allah yang mulia namun beliau senantiasa berdoa agar diberikan ketetapan dan keteguhan hati di dalam memahami ajaran Islam. Doa yang pertama berasal dari hadist riwayat  Muslim. Rasulullah SAW bersabda:

“Allahumma musharrifal qulub, sharrif qulubana ala tha’atika.”

“Ya Allah, yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk taat kepada-Mu.” (H.R. Muslim)

2. H.R. At-Tirmidzi, Ahmad, dan al-Hakim
Dalam mengahadapi cobaan hidup, Rasulullah SAW senantiasa meminta petunjuk kepada Allah. Beliau tidak pernah melupakan Allah walau sedetik pun. Rasulullah selalu meminta agar hatinya teguh berada di Allah SWT. Rasulullah SAW berdoa:

“Ya muqallibal qulubi tsabbit qalbi ala dinika.”

“Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu.” (H.R. At-Tirmidzi, Ahmad, dan al-Hakim)

3. Q.S. Ali Imran: 18)
Doa yang terakhir dapat kita peroleh dari sumber segala ilmu yakni Al-Qur’an yang diturunkan Allah SWT kepada baginda Muhammad SAW. Allah SWT berfirman:

“Robbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wa hab lanaa min ladunka rohmatan, innaka antal wahhaab.”

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Mahapemberi (karunia).” (Q.S. Ali Imran: 8)

Demikianlah informasi mengenai doa yang bisa dibaca untuk memperoleh keteguhan dan ketetapan hati dai Allah SWT. Sadarilah bahwa kebeningan hati akan membawa ketenangan dan senantiasa membuat kita dekat dengan Sang Maha Kuasa, Allah SWT.

Empat Negeri yang Direkomendasikan Rasulullah Dihuni pada Akhir Zaman

Akhir zaman merupakan masa  yang mendekati terjadinya hari kiamat. Kabar tentang terjadinya hari kiamat sudah tertulis dalam Alquran dan hadist. Nyaris tanda-tanda yang dijelaskan tersebut sudah terjadi.

Bahkan, bisa disimpulkan bahwa kita sedang menanti datangnya tanda kiamat besar. Jelang terjadinya kiamat besar, maka akan terjadi petaka dan huru hara yang akan melanda manusia khususnya umat Islam.

Dajjal laknatullah akan menebar fitnahnya ke berbagai penjuru bumi. Rasulullah SAW pun menganjurkan empat negeri ini untuk ditinggali. Pasalnya, negeri ini begitu diberkahi oleh Allah SWT. Berikut negeri yang direkomendasikan Rasulullah dihuni pada akhir zaman.

1. Mekah dan Madinah
Mekah menjadi salah satu negeri yang direkomendasikan Nabi untuk ditinggali. Pasalnya kota suci Umat Islam ini akan terbebas dari fitnah Dajjal yang kejam. Berdasarkan hadist Nabi Muhammad SAW, Allah SWT menjamin bahwa ini akan dijaga oleh malaikat dari fitnah Dajjal.

“Tiada suatu negeri pun melainkan akan diinjak oleh Dajjal, kecuali hanya Makkah dan Madinah yang tidak. Tiada suatu lorong pun dari lorong-lorong Makkah dan Madinah itu, melainkan di situ ada para malaikat yang berbaris rapat untuk melindunginya. Kemudian Dajjal itu turun lah di suatu tanah yang berpasir ( di luar Madinah ) lalu kota Madinah bergoncanglah sebanyak tiga goncangan dan dari goncangan-goncangan itu Allah akan mengeluarkan setiap orang kafir dan munafik (dari Makkah – Madinah) .” (Riwayat Muslim).

2. Yaman
Allah juga melebihkan negeri Yaman dibanding negeri-negeri lainnya setelah Mekah dan Madinah. Negeri Yaman ini mendapat julukan dari Allah SWT dengan sebutan baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur (Negeri yang aman, dan senantiasa mendapat ampunan Rabb-nya). Selain itu, Nabi Muhammad juga merekomendasikan negeri ini dihuni di akhir zaman.

Pada akhir zaman nanti, umat Islam pada akhirnya akan menjadi pasukan perang. Hal ini sudah disabdakan Nabi Muhammad SAW. Dari Abdullah bin Hawalah mengatakan, ” Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Pada akhirnya umat Islam akan menjadi pasukan perang, satu pasukan di Syam, satu pasukan di Yaman, dan satu pasukan lagi di Iraq. Hendaklah kalian memilih Syam. Karena ia adalah negeri pilihan Allah. Allah kumpulkan di sana hamba-hamba pilihan-Nya. Jika tak bisa,  hendaklah kalian memilih Yaman dan berilah minum (hewan kalian) dari kolam-kolam (di lembahnya). Karena Allah menjamin untukku negeri Syam serta penduduknya.” (HR. Abu Dawud, Imam Ahmad, Al-Hakim, dan Ibnu Hibban. Dinilai shohih oleh Al-Hakim dan Al-Albani)

Dari Abu Hurairah – radhiyallahu ‘anhu – dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam beliau bersabda: “Penduduk Yaman telah datang kepada kalian, mereka adalah orang-orang yang paling luluh hati, dan paling lembut hati, keimanan ada di Yaman dan hikmah ada di Yaman. (HR: Bukhari – Muslim).

Dari sahabat Tsauban berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda,

“Sesungguhnya kelak aku akan berada di samping telagaku. Kemudian Aku akan menghalangi orang-orang yang akan meminum dari telagaku, agar  penduduk Yaman dapat meminumnya terlebih dahulu. Aku memukul dengan tongkatku, sehingga air telaga tersebut mengalir untuk mereka.” (HR. Muslim)

Dari Ibnu Umar beliau menyebutkan Nabi shallallahu Alaihi Wasallam pernah berdoa: “Ya Allah berkatilah kami pada Syam dan pada Yaman. (HR: Bukhari)

Lantas adakah doa yang lebih mustajab dibanding Doa Nabi?

Nabi Muhammad SAW bahkan pernah memuji kota ini dalam sabdanya, "Sesungguhnya aku benar-benar mencium harumnya karunia Tuhan yang Maha Pemurah dari Yaman. Berapa banyak mata air kemurahan dan hikmah yang terpancar dari sana."

Allah SWT juga berfirman dalam Alquran QS. Al-Maidah 54 yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas [pemberian-Nya] lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Maidah 54)

Pendapat dari ahli tafsir sebagian menyatakan bahwa kaum yang disebutkan di atas adalah kaum Anshor. Namun, pendapat yang lebih kuat mengenai identitas kaum yang disinggung dalam ayat di atas; sebagaimana dijelaskan oleh Imam al Qurtubi dalam tafsirnya, adalah penduduk negeri Yaman; kaumnya sahabat Abu Musa al Asy-‘asy’ari radhiyallahu’anhu.

“Turunnya ayat ini; terang Imam Al Qurtubi,  berkenaan dengan kabilah yang bernama al Asy-‘ari. Dalam riwayat disebutkan: setelah ayat ini turun, beberapa rombongan kapal dari kabilah al Asy-‘ari dan kabilah-kabilah lainnya dari negeri Yaman, datang melalui jalur laut. Mereka adalah kaum muslimin yang tertindas di negerinya pada masa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam masih hidup. Merekalah yang berjasa dalam penaklukan negeri Irak (melalui perang Al Qodisiyyah) pada masa kekhilafahan Umar radhiyallahu’anhu.”

3. Syam
Negeri syam juga menjadi salah satu negeri yang disebut-sebut Rasullullah dan mendapat keberkahan dari Allah. Negeri ini senantiasa dijaga malaikat sehingga baik dihuni pada akhir zaman nanti.

“Beruntunglah negeri Syam. Sahabat bertanya: mengapa ? Jawab Nabi saw: Malaikat rahmat membentangkan sayapnya di atas negeri Syam.” (HR. Imam Ahmad)

Dijelaskan Nabi bahwa Syam merupakan pusat negeri Islam di akhir zaman. Nantinya  disinilah akan menjadi tempat huru-hara dan peperangan dahsyat.

“Pada akhirnya umat Islam akan menjadi pasukan perang: satu pasukan di Syam, satu pasukan di Yaman, dan satu pasukan lagi di Iraq. Ibnu Hawalah bertanya: Wahai Rasulullah, pilihkan untukku jika aku mengalaminya. Nabi saw: Hendaklah kalian memilih Syam, karena ia adalah negeri pilihan Allah, yang Allah kumpulkan di sana hamba-hamba pilihan-Nya, jika tak bisa hendaklah kalian memilih Yaman dan berilah minum (hewan kalian) dari kolam-kolam (di lembahnya), karena Allah menjamin untukku negeri Syam dan penduduknya.” (HR. Imam Ahmad)

“Al-Masih Dajjal akan datang dari arah timur, ia menuju Madinah, hingga berada di balik Uhud, ia disambut oleh malaikat, maka malaikat membelokkan arahnya ke Syam, di sana ia dibinasakan, di sana dibinasakan.” (HR. Imam Ahmad).

Saat ini Negeri Syam merujuk ke sejumlah tempat di Timur Tengah seperti Lebanon, Palestina Dan Suriah. Terimakasih sudah membaca artikel ini. Ilmu pengetahuan sempurna datangnya dari Allah SWT. Semoga pembaca setia infoyunik berkenan menambahkan jika ada kekurangan.

Selasa, 26 Januari 2016

Satu Kalimat yang Dapat Patahkan Punggung Iblis

Iblis dahulunya adalah penghuni surga yang paling dekat dengan Allah SWT. Namun, Ia begitu sombong dan membangkang ketika diperintahkan untuk bersujud kepada Nabi Adam as. Akhirnya, Iblis diusir dari surga dan menjadi musuh abadi Allah SWT.

Tidak tanggung-tanggung, Iblis memiliki misi untuk membawa sebanyak-banyaknya manusia agar terseret ke lembah nista. Berbagai upaya dilakukan agar manusia mengikuti perintahnya, baik dari arah depan, belakang, kanan dan kiri.

Keturunan Adam pun tidak berdaya dengan tipu daya iblis sehingga terjerumus kepada perbuatan dosa.  Namun selalu ada upaya untuk menghalau mereka. Ternyata ada sebuah kalimat yang dapat mematahkan punggung iblis dan membuat tidak berdaya. Kalimat apakah yang dimaksud?

Cara terbaik untuk membentengi diri dari godaan iblis adalah dengan meminta perlindungan kepada Allah SWT. Jika Allah SWT sudah melindungi hamba-Nya, maka tidak ada satupun makhluk yang bisa mengganggu hamba tersebut.

Sebaik-baiknya perlindungan diri dari godaan iblis adalah dengan kalimat-kalimat thayyibah yang langsung direkomendasikan oleh Allah dalam Al-Qur;an serta petuah Rasulullah SAW dalam banyak hadistnya.

Kalimat itu sanggup binasakan setan (meskipun ia bisa hidup kembali) dan (dengan kalimat itu) bisa mematahkan punggung iblis. Terkait kalimat thayyibah ini, Imam Mujahid juga berkata, “Tidak ada sesuatu pun yang mampu mematahkan punggung iblis melebihi kalimat Laa ilaaha illallaah.”

Suatu ketika, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Bacalah ‘Laa ilaaha illallaah (Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah) dan astaghfirullah (Aku meminta ampun kepada Allah), dan perbanyaklah!”

“Karena,” lanjut Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hafizh al-Maushili dari Abu Bakar ash-Shiddiq, “iblis berkata, ‘Aku membinasakan anak Adam dengan dosa. Dan, mereka membinasakanku dengan Laa ilaaha illallaah (Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah) dan astaghfirullah (Aku meminta ampun kepada Allah).”

Lanjut setan mengatakan, “Ketika aku melihat itu, aku membinasakannya dengan hawa nafsu dan mereka menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Kalimat thayyiban tersebut tidak hanya bisa melindungi diri dari bisikan dan godaan iblis dan pengikutnya. Akan tetapi juga bisa menjadi senjata ampun agar kita dikaruniai surga jika dibaca saat akhir hayat. Selain itu, memperbanyak istighfar akan diberikan jaminan oleh Allah Ta’ala agar rezeki yang dilimpahkan penuh dengan keberkahan.

Demikianlah informasi mengenai kalimat yang dapat patahkan punggung iblis. Amalkanlah bacaan kalimat tersebut, agar kita terhindari dari godaan iblis yang keji, terkutuk dan laknat serta senantiasa mengajak manusia untuk melakukan maksiat agar bisa terjerumus bersamanya di neraka kelak.

Cara Membedakan Mimpi dari Allah atau dari Setan

Mimpi merupakan pengalaman alam bawah sadar yang kerap kali muncul ketika manusia tidur. Ada beragam jenis mimpi yang dialami oleh manusia, biasanya banyak yang bermimpi mengenai kegiatan sehari-harinya.

Terkadang mereka akan bermimpi bahagia, atau justru mengalami kesedihan dalam mimpinya. Ternyata mimpi juga menjadi perkara yang diperhatikan dalam Islam. Mimpi bisa menjadi sebuah berita gembira atau malah peringatan bagi seorang hamba.

Mimpi tidak hanya berasal dari Allah SWT, ternyata ada juga mimpi yang berasal dari setan. Lalu bagaimanakah cara kita membedakan mimpi yang berasal dari Allah dengan mimpi yang berasal dari setan? Berikut informasi selengkapnya.

Perlu diketahui bahwa mimpi itu dapat dibedakan dalam tiga jenis, yakni mimpi yang berasal dari Allah SWT, atas ulah setan dan karena kegiatan yang kita lakukan sehari-hari. Adapun cara membedakan mimpi yang berasal dari Allah atau atas ulah setan adalah dengan melihat mimpi itu sendiri, apabila bermimpi suatu hal yang kita sukai maka itu berasal dari. Sebaliknya, jika bermimpi suatu hal yang tidak disukai maka itu datanynya dari setan. Rasululllah SAW bersabda:

Mimpi bisa dibedakan menjadi tiga jenis. Dari Allah Ta’ala, atas ulah setan, dan karena kegiatan yang dilakukan sehari-hari. Mimpi ketiga amat mudah dikenali oleh seseorang. Akan tetapi, bagaimana cara membedakan mimpi yang datang dari Allah Ta’ala atau atas ulah setan yang hendak melemahkan seorang hamba?

“Apabila kamu bermimpi melihat sesuatu yang disukainya,” sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan dari Abu Said al-Khudhri, “maka mimpi itu berasal dari Allah Ta’ala.” Tentunya, makna ‘sesuatu yang disukai’ adalah sesuai fitrah penciptaan atau yang disukai oleh Allah Ta’ala, rasulullah, dan orang-orang yang beriman. Sebab, orang-orang kafir, musyrik, dan munafiq juga memiliki kesukaan. Dan kesukaan mereka sangatlah bertolak belakang dengan segala sesuatu yang dicintai orang-orang beriman.

Ternyata apabila mengalami mimpi jenis ini, nasihat Rasulullah dalam kelanjutan hadits ini, “Hendaklah ia memuji Allah Ta’ala.” Disebutkan dalam riwayat lain agar hanya bercerita kepada orang-orang yang menyukainya. Sebab, orang-orang yang di dalam hatinya ada dengki, kabar kebaikan juga bermakna buruk dan bencana bagi mereka. Karenanya, berhati-hatilah.

Sebaliknya, jika kaum beriman bermimpi suatu hal atau melakukan sesuatu yang tidak disukainya, maka mimpi tersebut berasal dari setan. “Dan hendaklah,” tutur Nabi dengan amat bijak sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari ini, “dia meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala dan tidak mengisahkannya kepada siapa pun.”

Sebagai jaminan, jika orang yang bermimpi melakukan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini, “Karena dia (setan) tidak akan membahayakannya (orang yang bermimpi).”

Setan hanya bertugas untuk membisiki, membuat panik, menggoda, menciptakan perasaan was-was dan hal-hal buruk lainnya. Semua itu merupakan cara melancarkan serangan kepada manusia agar melemahkan keimanan seorang hamba.

Lewat mimpi tersebut, setan menakut-nakuti agar seseorang senantiasa menjauh dari Allah SWT. Tidak hanya itu, ia juga akan menyampaikan kebohongan berupa derajat yang tinggi bagi seorang hamba di sisi Allah SWT.  Padahal pada kenyataannya mereka  merupakan sosok yang paling rendah derajatnya di sisi-Nya.

Demikianlah informasi terkait cara membedakan mimpi yang berasal dari Allah SWT dan mimpi yang berasal dari setan. Hendaknya kita sebagai kaum mukmin bersikap bijak terhadap permasalahan mimpi ini. apapun mimpinya senantiasalah untuk bersungguh-sungguh menafsirkannya di jalan kebaikan.

Inilah Dua Waktu yang Buat Setan Merasa Hina

Setan selalu berusaha menjerumuskan manusia ke lembah kesesatan. Mereka layaknya penguasa dzalim, mengendalikan pikiran manusia agar taat kepadanya. Tidak bisa dipungkiri, manusia dengan tingkat keimanan yang lemah akan mudah tergoda dengan bujuk rayu pasukan iblis tersebut.

Ironisnya, meski sudah mengetahui bahwa tindakan yang dilakukan merupakan tipu daya setan, namun manusia masih tidak tetap saja mengikutinya. Hal ini tentu membuat setan senang dan merasa menang karena banyak yang melanggar aturan Allah.

Namun ada waktu dimana setan merasa tidak berdaya. Dua waktu tersebut membuat musuh Allah dan kaum mukmin ini merasa sangat hina dan lemah. Umat Islam hendaknya mendapat pengetahuan ini, agar bisa bersama-sama melemahkan setan dan menjauhkan diri darinya. Kapan saja waktu tersebut? Berikut ulasannya.

Disebutkan dalam kitab al-Muwatha’ karangan Imam Malik bin Anas, dari Thalhah bin ‘Ubaidillah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Setan tidak pernah terlihat lebih rendah, lebih hina, lebih terusir, dan lebih marah (dari hari ini).”

Kemudian, beliau pun menyebutkan dua hari besar dalam sejarah kaum Muslimin, satu di antaranya akan terus terulang hingga Hari Kiamat. Ternyata dua hari tersebut adalah hari ‘Arafah dan saat terjadinya Perang Badar.

1. Hari ‘Arafah
Ternyata waktu pertama yang membuat setan lemah dan tidak berdaya serta merasa hina adalah hari Arafah. Hari Arafah jatuh pada hari ke-9 bulan  Dzulhijjah atau bertepatan dengan hari ke-2 dalam ritual ibadah haji.

Pada hari ini Allah SWT membanggakan hamba-Nya yang berkumpul di Padang Arafah kepada para malaikat. Pada saat ini Allah Ta’ala menurunkan rahmat dan pengampunan atas dosa-dosa besar.

Abu ‘Utsman ash-Shabuni menjelaskan tentang riwayat dari seorang Gubernur di salah satu negeri Romawi yang melarikan diri dan bersembunyi. Dalam persembunyiannya itu, ia dibuat kaget karena melihat sesosok laki-laki yang menunggang unta. Karena di negeri Romawi tersebut tidak ada unta.

Setelah melihat lelaki itu, ia pun bertanya kepada sosok aneh tersebut. Ketika itu, ia merasa sangat takut dan ketakutannya tersebut bertambah ketika keduanya saling berdekatan.  “Hai hamba Allah, siapakah Anda?” tanya sang Gubernur. “Orang yang berduka,” jawab sosok aneh itu.

Lanjut sang Gubernur, “Demi Allah, ini sangat mengherankan. Ceritakanlah kepadaku.” Jawabnya dengan gertakan, “Jangan banyak bertanya!”

Karena tak juga menjawab, sang Gubernur terus mendesaknya untuk berbicara. Hingga pada akhirnya lelaki aneh tadi mau berbicara. “Aku adalah iblis. Aku baru saja datang dari ‘Arafah. Aku datang untuk melihat-lihat, rupanya mereka (kaum Muslimin) mendapatkan rahmat dan ampunan, serta saling memaafkan.”

“Aku,” lanjut iblis menuturkan, “menjadi sedih, cemas, dan galau.” Ia pun menyatakan, bahwa dirinya hendak pergi menghibur diri menuju Konstantinopel. Mengapa ke Konstantinopel? Aku setan, “Di sana, aku akan melihat dan mendengar bahwa Allah Ta’ala disekutukan, dan klaim bahwa Dia memiliki anak.”

Setelah mendengar penuturan iblis tadi, maka seketika itu juga sang Gubernur tersebut membaca kalimat, Aku berlindung kepada Allah Ta’ala darimu!” Hingga, tuturnya sebagaimana dikutip oleh Syeikh Ibnu Muflih al-Maqdisi, “Ketika mengatakan kalimat itu, tiba-tiba aku tidak melihat apa pun.”

2. Hari ketika Terjadinya Perang Badar
Selain hari Arafah, ternyata setan juga merasa terhina ketika terjadinya Perang Badar. Ternyata perang ini tidak seperti perang kelihatannya yang terjadi antara kaum mukmin dan kaum kafir. Lebih dari itu, ternyata Malaikat Jibril juga ikut serta dalam perang tersebut melawan Iblis laknatullah.

Dari Mu'adz bin Rafa'ah ibn Rafi' az-Zargi dari ayahnya yang ikut serta dalam Perang Badar al-Kubra. Dia berkata, "Malaikat Jibril as mendatangi Nabi Muhammad SAW dan berkata, "Apa pendapatmu tentang pengikut Perang Badar dari kalanganmu?" Rasulullah SAW menjawap, "Dari kalangan kaum Muslimin yang paling utama." Malaikat Jibril as kembali berkata, "Demikian juga dengan para malaikat yang ikut serta dalam Perang Badar."

Perang ini memang menjadi hidup dan matinya kelangsungan Islam. Jika Islam kalah, maka tidak akan ada lagi yang dapat meneruskan syarnya. Namun jika menang, maka ajaran Islam akan memenuhi dunia. Itulah mengapa, Nabi Muhammad sampai bercucuran air mata memohon kepada Allah agar memberikan pertolongan pada perang tersebut.

Allah SWT adalah perancang yang Maha Hebat, Islam mendapat sokongan moral yang hebat dengan turunnya tentera berpakaian serba hijau yaitu para Malaikat Allah SWT. Ini diakui sendiri oleh Rasullulah SWT dan para sahabat.

Hal ini membuat setan tidak berdaya. Selain merasa terhina, setan juga merasa terusir, cemas, dan perasaan buruk lainnya. Hal tersebut dikarenakan kala itu, setan melihat malaikat Jibril memimpin pasukan malaikat untuk membantu pasukan kaum muslimin memerangi orang kafir dan bala tentara setan.

Demikianlah informasi mengenai dua hari yang membuat setan merasa terhina. Meskipun Perang Badar tidak pernah terulang, namun hari Arafah senantiasa terulang yakni setiap tanggal 9 Dzulhijjah. Sebagai kaum muslimin, perbanyaklah ibadah kepada Allah SWT agar terhindar daei segala godaan setan yang terkutuk.

Inilah Alasan Dosa Dapat Halangi Rezeki

Rezeki merupakan rahmat Allah SWT bagi seluruh makhluk-Nya saat menjalani hidup di dunia. Tidak hanya melulu persoalan uang, rezeki juga bisa dalam bentuk kesehatan, keluarga yang rukun, anak-anak yang saleh dan hal-hal membahagiakan lainnya.

Rezeki tentu tidak datang begitu saja, namun harus dicapai dengan usaha dan kerja keras. Allah SWT memerintahkan hamba-Nya agar berlaku halal dalam mencari rezeki. Dengan demikian, apa yang didapatkan akan mendatangkan ketenangan dan menjadi berkah.

Namun sebagian orang tidak mempedulikan hal tersebut. Mereka mengumpulkan rezeki melalui jalan maksiat yang menyebabkan dosa. Padahal dosa justru dapat menghalangi datangnya rezeki? Mengapa bisa demikian? Berikut informasinya.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ibnu Majah, Imam ath-Thabrani, Imam Ibnu Hibban, dan Imam al-Hakim, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya seseorang dihalangi dari rezekinya disebabkan dosa yang dia perbuat.”

Adapun alasan dosa bisa menjadi penghalang rezeki yang pertama, karena orang yang berbuat dosa jauh dari istighfar atau memohon ampun kepada Allah SWT. Pada dasarnya istighfar sebagai penghapus dosa menjadi jalan terbukanya rezeki. Jika bertaubat menjadi pembuka jalan untuk mendapatkan kelimpahan rezeki, maka berdosa bermakna membatalkan semua itu.

Rasulullah SAW dalam hadist riwayat Ahmad yang artinya “Barang siapa yang memperbanyak membaca istighfar maka Allah akan menjadikan segala kesusahan, menjadi kemudahan dan dari segala kesempitan Allah menjadikan jalan keluar dan Allah akan memberi rezeki untuknya dari yang dia sangka maupun yang tidak dia sangka”.

Sebab yang kedua yaitu terhalangnya seorang hamba dari rasa nikmat atas banyak rezeki yang diberikan oleh Allah Ta’ala. Maknanya adalah orang tersebut tetap diberikan rezeki dari Allah SWT, namun rasa nikmatnya telah dicabut. Itulah yang menyebabkan meskipun ia berlimpah rezeki namun tetap terasa hambar.

Bahkan hal tersebut membuat dirinya semakin haus dan berhasrat untuk menumpuk harta sebanyak-banyaknya tanpa ada rasa syukur kepada Allah SWT. Tidak hanya itu, dalam usahanya mendapatkan apa yang diinginkan mereka cenderung tidak sabar.

Padahal sebenarnya Allah sudah mengatur rezeki setiap umatnya dan akan memberikan jatah rezeki tersebut apabila sudah tepat waktunya. Coba renungkan perkataan Ibnu ‘Abbas berikut ini. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

“Seorang mukmin dan seorang fajir (yang gemar maksiat) sudah ditetapkan rezeki baginya dari yang halal. Jika ia mau bersabar hingga rezeki itu diberi, niscaya Allah akan memberinya. Namun jika ia tidak sabar lantas ia tempuh cara yang haram, niscaya Allah akan mengurangi jatah rezeki halal untuknya.” (Hilyatul Auliya’, 1: 326)

Demikianlah informasi mengenai alasan dosa dapat halangi rezeki. Oleh karena itu, sebagai muslim yang beriman hendaknya kita senantiasa percaya bahwa Allah telah mengatur segala kebaikan untuk kita. Maka bersabarlah dan tetaplah berikhtiar mencari rezeki dengan cara yang halal.