Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Januari 2016

Lima Cara Hadapi Suami Cuek dan Egois

Perubahan sifat sering terjadi saat seseorang sudah menjalani hubungan rumah tangga. Hal ini kerap dirasakan istri atas sifat suami yang mengalami perbedaan cukup signifikan. Bahkan terkadang perubahan tersebut tidak terbayangkan sebelumnya.

Jika pada awalnya perhatian dan penyayang, setelah menikah suami bisa berubah menjadi sosok cuek dan egois. Mereka bisa berubah menjadi pribadi yang tidak peduli terhadap keluarga dan  melakukan sesuatu sekehendak hati. 

Perubahan tersebut tentu akan membuat hati wanita tersakiti. Namun tetap ada cara yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi perubahan ini. Bagaimana caranya? Berikut informasi selengkapnya.

1. Bersabarlah

Cara pertama yang dapat dilakukan untuk menghadapi suami yang cuek dan egois adalah dengan bersabar. Meskipun sifat egois yang dimiliki suami kerap kali membuat istri harus terus-terusan menelan kekecewaan dan merasa tidak diperhatikan. Itulah sebabnya seorang istri dituntut untuk memiliki kesabaran ekstra dalam menghadapi suami yang demikian.

Apabila sikap egois suami dibalas dengan sikap yang egois pula, maka akan membuat keharmonisan dalam keluarga tersebut menurun. Jangan berprasangka buruk dengan sikap suami yang cuek dan egois, bisa jadi mereka sedang menghadapi masalah di kantor tempatnya bekerja dan tidak sempat memperhatikan anda.

Sebagai istri yang baik haruslah mampu bersabar dan mampu membantu suaminya dalam menghadapi masalah yang tengah dihadapi. Hal ini tentu saja bertujuan agar hubungan tersebut berjalan dengan baik dan semakin harmonis.

2. Pintarlah Dalam Mengutarakan Perasaan

Tidah hanya dituntut untuk menjadi sosok yang sabar, dalam menghadapi suami cuek dan egois seorang istri juga harus bisa pintar dalam mengutarakan perasaannya. Mungkin agak sulit untuk memulai pembicaraan mengenai uneg-uneg yang selama ini dirasakan istri atas sikap suami.

Akan tetapi, cobalah untuk berbicara masalah tersebut agar si suami mengerti apa yang diinginkan oleh istri. Namun hal yang harus diperhatikan adalah dalam menyampaikan maksud hati tersebut jangan sampai menyinggung apalagi menyakiti hati suami.

Tetap sampaikan keluhan tersebut dengan lemah lembut. Jangan sampai melontarkan kata-kata kasar atas rasa kesal yang selama ini dipendam. Hal ini bertujuan agar tidak menyulut emosi sumai yang bisa menyebabkan pertengkaran antara pasangan.

3. Cerdas Sewaktu Berkompromi
Cara selanjutnya yang harus dilakukan oleh istri dalam menghadapi suami yang egois dan cuek adalah dengan cerdas sewaktu berkompromi. Apabila anda sedang membutuhkan bantuan suami namun mereka menolak untuk melakukannya, maka hindarilah untuk memarahi dan mengutuk suami.

Sebaliknya, lakukanlah kompromi bersama suami. Jangan menunjukkan sikap bahwa istri sedang memerintah suami untuk melakukan sesuatu. Buatlah ia merasa tulus sewaktu membantu pekerjaan istri di rumah.

4. Sediakan “Me Time”
Sifat egois yang dimiliki oleh suami bisa saja disebabkan karena adanya kejenuhan dalam melakukan rutinitas. Kesibukan yang teramat sangat bisa menjadi pemicu pudarnya rasa kepedulian terhadap lingkungan sekitar termasuk pada keluarga.

Hal yang harus dilakukan istri dalam menghadapi suami yang bersikap demikian adalah dengan meminta suami untuk menyediakan me time atau waktu luang untuk melakukan hal-hal positif yang menyenangkan dan bisa meningkatkan kesehatan mental suami istri. 

Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan dalam waktu luang tersebut. Seperti olahraga bersama, atau sekedar jalan-jalan di taman seperti waktu awal pernikahan dulu.  Bisa juga bersantai di rumah dengan bercanda ria bersama anak-anak dan keluarga besar.

5. Menumbuhkan Kembali Rasa Sayang
Cara terakhir untuk menghadapi suami yang cuek dan egois adalah dengan menumbuhkan kembali rasa sayang. Sikap suami yang berubah kepada istrinya bisa jadi dilatarbelakangi karena mulai berkurangnya perhatian dari istri.

Mungkin seorang istri lupa cara menyenangkan suami karena kesibukkannya mengurus anak dan rumah tangga serta mengelola keuangan. Lantaran kurang perhatian dari istri tersebut maka akan membuat hubungan itu menjadi hambar dan pada akhirnya membuat berkurangnya rasa kasih sayang antara kedua belah pihak.

Hal inilah yang kemudian memicu suami berpikir untuk bersikap egois dan tega terhadap istrinya. Oleh sebab itu, jika hal seperti ini terjadi maka hal yang harus dilakukan istri adalah dengan kembali memperlakukan suami sebagaimana mestinya, berikan perhatian agar perasaan sayang tersebut kembali muncul di tengah keluarga. Dengan melakukan perbuatan tersebut, secara otomatis akan membuat suami menjadi lebih peka dan lebih peduli kepada sang istri.

Demikianlah informasi yang bisa dilakukan istri untuk menghadapi suami yang cuek dan egois. Perlu dipahami bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Jika sudah mulai merasakan perubahan dalam diri suami, maka segeralah lakukan  cara untuk mendapatkan kembali perhatiannya.

Rabu, 20 Januari 2016

Terungkap, Inilah Tiga Kunci Kebahagiaan Pria

Kaum pria diciptakan dengan beberapa kelebihan dibanding wanita.  Mereka terlahir menjadi pemimpin, baik dalam kehidupan sosial maupun dalam berumah tangga. Tidak heran jika pria akan bekerja lebih keras dibanding wanita.

Tidak hanya untuk pembuktian diri, pria juga bekerja keras untuk memberi kebahagiaan kepada orang-orang terdekatnya. Selain membahagiakan orang lain, ternyata pria memiliki indikator yang membuat mereka bahagia.

Bahkan indikator tersebut diucapkan oleh pria terbaik di semesta alam, Nabi Muhammad SAW. Jika mendapatkan tiga kunci ini, maka pria akan meraih kebahagiaan sejatinya. Apa saja?

Rasulullah SAW telah mengungkapkan standar hidup yang disepakati masyarakat kita, sebagaimana sabdanya: " 3 kunci kebahagiaan seorang laki-laki (1) Istri salehan, yang jika dipandang membuatmu semakin sayang, jika kamu pergi ia membuatmu merasa aman karena bisa mrnjaga kehormatan dirinya dan hartamu, (2) kendaraan yang baik, yang bisa mengantar kemanapun pergi, (3) rumah yang lapang, damai, penuh kasih sayang". (H.R.Abu Daud).

1. Istri Salehah

Ternyata hal pertama yang menjadi kunci kebahagiaan pria adalah istri yang saleha. Setiap hal yang indah di dunia, adalah perhiasan dunia, namun yang paling indah diantara semua, adalah istri yang saleha.

Lantas bagaimana sikap dari istri yang salehah tersebut. Allah SWT sudah memberikan rincian bagiamana istri yang memiliki tipe ini.

“Maka wanita yang sholihah adalah yang taat, lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada dikarenakan Allah telah menjaga mereka.” (QS. An Nisa’:34)

Pria yang sudah berumah tangga pastinya sudah merasakan bagaimana menderitanya memiliki istri yang tidak salehah. Mereka harus mengelus dada akibat pembangkangan yang dilakukan istri, saat ditinggalkan suami mereka melakukan tindakan yang bisa mempermalukan nama baik suaminya, serta istri-istri yang hanya menghabiskan harta suaminya ketika ditinggal.

Hal di atas begitu menyakitkan hati para suami. Mereka merasakan betul bagaimana gagalnya diri membina wanita yang dipilihnya untuk menjadi istri tersebut. Itulah mengapa, memiliki istri salehah menjadi salah satu indikator kebahagiaan seorang pria.

 Lihat saja, begitu bahagianya Rasulullah ketika hidup di rumah kecil yang sempit, namun tetap mengatakan bahwa ‘Rumahku adalah surgaku’, apa rahasianya, ya, karena didalam rumah tersebut ada istri-istri yang saleh yang selalu membahagiakannya.

Untuk pemuda yang saat ini belum menikah namun sudah merasa sukses dan bahagia, itu belum lah kebahagiaan sebenarnya. Karena pada kenyataannya, pemuda pasti akan menikahi seorang wanita. Disitulah para pemuda diuji dengan istrinya, orang yang akan menemaninya sepanjang hidup. Jika Ia sukses mendidik istrinya menjadi saleh, barulah bisa dikatakan Ia bahagia.

2. Kendaraan yang Bisa Mengantar Kemana pun Pergi
Kendaraan menjadi salah satu indikator kebahagiaan pria. Sebagian bisa saja mengatakan jika kendaraan mungkin saja digunakan untuk membanggakan diri dan sombong. Namun Rasulullah SAW tidak mengatakan demikian. Menurut manusia mulia ini kendaraan justru menjadi penunjang aktivitas ibadah, mempercepat pengembangan diri dan mempermudah jalan dakwah.

Pada zaman Rasulullah SAW kendaraan bisa dalam bentuk onta, kuda, keledai. Namun kini kendaraan tersebut bertransformasi menjadi Ferrari, Mercedes Benz, BMW, Jaguar, Land Cruiser dll.

Sebagian mungkin saja memilikinya untuk membanggakan diri dan sombong. Namun sebagian lagi tidak berlaku demikian. Karena sejatinya Allah SWT tidak ingin hamba-Nya miskin dan meminta-minta. Namun harus kaya agar bisa membantu orang lain yang membutuhkan.

Rasulullah memiliki Al Qashwah, unta putih yang tangkas, berkualitas tinggi, gesit, sehat dan sangat sehat dan kecepatannya mengangumkan. Beliau juga memiliki Duldul, keledai hadiah dari Maqaiqus yang sangat kuat dan kokoh jalannya. Bahkan keledai ini berumur panjang sampai masa kepemimpinan Muawiyah ra. Kuda beliau juga tangkas, cepat dan gesit.

Namun kendaraan yang dimaksud Rasulullah bukan hanya kendaraan-kendaraan super bagus yang disebutkan diatas. Namun dengan kendaraan roda dua yang bisa mengantarkan kemana pun kita beraktivitas juga menjadi kebahagiaan tersendiri. 

3. Rumah yang Lapang, Damai dan Penuh Kasih Sayang
Berapa banyak rumah mewah yang begitu luas namun isinya terasa seperti di neraka? Tidak jarang para pria merasa sedih ketika pulang dari kerja namun mendapati suasara rumahnya tidak kondusif.

Akan sangat begitu terasa, membuat rumah terasa damai dan penuh kasih sayang tidaklah mudah. Dengan ketidaksepahaman istri, atau anak-anak yang mulai membangkang dan melawan akan membuat isi kepala begitu penuh dengan permasalahan.

Sulitnya menciptakan rumah yang lapang, dan penuh kedamaian inilah yang menjadi salah satu indikator mengapa hal ini menjadi kunci kebahagiaan pria.

Bayangkan bahagianya jika memiliki istri saleha, tidak menambah pikiran suami yang sudah bertanggungjawab penuh terhadap keluarga, serta memiliki anak-anak yang taat, yang menyambut ayahnya dengan senyum kebahagiaan ketika pulang kerja.

Apalagi dengan rumah yang lapang, anggota keluarga menjadi lebih leluasa dalam bercengkrama. Rumah yang lapang akan bisa menampung banyaknya anggota keluarga cukup untuk menerima tamu, menampung jamaah untuk shalat bersama atau ingin mengadakan kajian rutin keagamaan.  

Selasa, 19 Januari 2016

Bekal 3 M yang Harus Dimiliki Seorang Istri

Wanita memang ditakdirkan untuk menjadi seorang istri dan ibu. Akan tetapi, menjalankan kedua peran tersebut dalam satu waktu bukanlah perkara mudah. Sebab,  selalu saja ada masalah yang akan menguji sebuah keluarga.

Meskipun awalnya rumah tangga berjalan aman dan tentram, namun sewaktu-waktu Allah bisa saja memberikan ujian kepada mereka. Oleh sebab itu, ketika tertimpa masalah sangat diperlukan akidah yang kuat sebagai pondasi agar tidak goyah.

Peran istri tentu saja sangat berpengaruh di dalam penyelesaian setiap masalah. Itulah penyebabnya, menjadi istri dan ibu harus dibarengi dengan bekal yang baik. Ternyata ada bekal 3M yang harus dimiliki oleh istri untuk menjalankan rumah tangga. Apa itu 3M? Berikut informasi selengkapnya.
1. Mujahidah
Bekal pertama yang harus dimiliki oleh seorang istri dalam menjalani rumah tangga adalah mujahidah. Mujahidan sendiri memiliki arti bentuk seorang wanita yang mengedepankan semangat untuk rela berkorban.

Maksudnya adalah wanita tersebut harus rela mengorbankan segalanya demi keutuhan rumah tangga yang dibina bersama sang suami. Baik itu berkorban dalam urusan waktu, tenaga, pikiran dan lain sebagainya. Untuk bisa mengorban itu semua tentu dibutuhkan semangat yang ekstra agar bisa menghadapi segala ujian yang menimpa.

Tidak hanya itu, di dalam menyelesaikan masalah rumah tangga juga dibutuhkan rasa sabar. Mungkin hal tersebut akan sulit dilakukan apabila si istri tidak mau berkorban untuk mengalah. Namun, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh pasti akan diberikan kemudahan oleh Allah SWT.

Selain itu, keikhlasan serta ketulusan hati juga dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah rumah tangga agar segala keputusan yang pilih nantinya tidak menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

2. Mujtahidah
Bekal M yang kedua yaitu Mujtahidah. Mujtahidah ini memiliki arti sebagai wawasan yang luas. Mengapa dibutuhkan bekal wawasan yang luas? Jawabannya adalah wawasan yang luas tersebut berguna ketika wanita itu berumahtangga kelak  dalam mengurus segala sesuatu terkait suami dan anak-anaknya,

Jika si wanita tidak mempunyai wawasan yang luas atau belum cukup ilmunya untuk menjalankan sebuah rumah tangga, tentu saja rumah tangga tersebut tidak akan berjalan dengan baik. Contohnya saat dilanda masalah atau ujian, jika si wanita tidak memiliki wawasan bagaimana cara menyelesaikannya tentu saka ia akan lebih cenderung mengambil keputusan mengikuti hawa nafsunya saja.

Lain halnya apabila wanita tersebut memiliki wawasan yang luas. Ketika ia dan keluarga dihadapkan dengan sebuah masalah, ia cenderung mengambil keputusan dengan menimbang baik buruknya keputusan tersebut di kemudian hari.

3. Mujaddidah

Bekal M yang terakhir yaitu Mujaddidah. Maksud dari mujaddidah adalah ia akan selalu berupaya sekeras mungkin untuk mengubah kondisi keluarganya. Entah itu dalam hal keuangan ataupun akhlak dari si anggota keluarga. Sehingga keluarga yang dibinanya tersebut akan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah sesuai yang diharapkan.

Demikianlah informasi mengenai Bekal 3M yang harus istri miliki untuk menjalankan sebuah rumah tangga. Bekal tersebut tentu saja sangat diperlukan agar terbina rumah tangga yang harmonis dan senantiasa diberkahi oleh Allah SWT.

Rabu, 13 Januari 2016

Tiga Ungkapan Terlarang Saat Bertengkar

Hubungan rumah tangga tidak hanya dihiasai dengan kebahagiaan dan suka cita saja. Akan tetapi, setiap keluarga tentu pernah mengalami permasalahan yang menyebabkan keduanya bertengkar. Banyak faktor yang bisa menyebabkan hal ini terjadi, salah satunya adalah selisih paham.

Banyak pasangan yang tidak mau mengalah jika sedang bertengkar. Mereka lebih mengedepankan ego masing-masing dibanding hubungan itu sendiri. Tidak jarang di antaranya tidak mampu mengontrol emosi dan kata-katanya.

Padahal sebenarnya, di dalam perselisihan tersebut harusnya pasangan itu mampu mengontrol diri agar tidak mengucapkan kata-kata yang menyakitkan. Ternyata ketika bertengkar, ada tiga ungkapan terlarang yang tidak boleh diucapkan pasangan. Ungkapan apa sajakah itu? Berikut informasinya.

1. Ungkapan Bernada Ancaman
Ungkapan terlarang pertama yang harus dihindari oleh pasangan adalah kata-kata yang bernada ancaman. Hal ini tidak boleh dilakukan sebab akan mengakibatkan tersulutnya emosi dan kemarahan satu sama lain.

Tidak hanya itu, ungkapan yang bernada ancaman juga dapat memberikan kekhawatiran tersendiri bagi pasangan. Terlebih lagi jika ancaman tersebut berhubungan dengan nyawa, anak dan rumah tangga itu sendiri.

Misalnya saja ucapan mengusir istri bila mengulangi kesalahan tersebut. Ucapan yang lebih berbahaya lagi apabila suami menggunakan kata “cerai”. Rasulullah SAW mengingatkan mengenai kata-kata cerai ini. Beliau bersabda:

 “Tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama dianggap serius, yakni nikah, talak dan rujuk”(HR. Abu Daud)

Imam Nawawi menjelaskan, “Orang yang mentalak dalam keadaan ridha, marah, serius maupun bercanda, talaknya tetap jatuh”

2. Ungkapan Kebencian
Tidak hanya ungkapan yang bernada ancaman, ternyata ungkapan kebencian juga dilarang untuk diucapkan ketika suami dan istri bertengkar. Disadari atau tidak, kata-kata kebencian tersebut dapat membekas di dalam hati pasangan. Terlebih lagi jika kata itu diucapkan oleh suami kepada istrinya. Dengan ungkapan kebencian ini bisa membuat istri berpikir bahwa suami sudah tidak lagi mencintainya.

Hal ini tentu saja akan membahayakan pernikahan bada kemudian hari. Sekalipun pertengkaran tersebut sudah bisa terselesaikan, namun apabila ia sedang sendirian maka istri akan teringat kembali dengan kata-kata tersebut dan membuat mereka bersedih. Hal inilah yang harus dipahami suami agar bisa menjaga perasaan istrinya yang sensitif.

3. Ungkapan “Selalu” dan “Tidak Pernah”
Ungkapan terakhir yang tidak boleh diucapkan oleh pasangan suami istri ketika bertengkar yakni “selalu” dan “tidak pernah”. Misalnya istri baru sekali terlambat menyiapkan sarapan sehingga membuat suami terlambat masuk kantor. Namun suami langsung memarahinya dengan mengatakan bahwa hal tersebut selalu dilakukan setiap hari.

Sedangkan untuk kalimat tidak pernah lebih fatal lagi. Biasanya perkataan ini sering diucapkan oleh istri kepada suami mereka saat bertengkar. Ia akan mengatkan “kamu tidak pernah membahagiakanku selama ini” dan lain sebagainya.

Padahal sebenarnya ucapan tidak pernah ini merupaja bentuk pengingkaran atas kebaikan yang dilakukan oleh pasangan hidup. Karena banyaknya wanita mengucapkan kalimat ini ketika bertengkar, maka bisa menyebabkan mereka menjadi penghuni neraka. Rasulullah SAW bersabda:

“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari itu. Aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Mengapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali tidak pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikianlah informasi mengenai tiga ungkapan terlarang yang tidak boleh diucapkan oleh pasangan saat mereka bertengkar. Ada baiknya jika pertengkaran tersebut terjadi, pasangan dapat mengendalikan dirinya untuk tetap sabar dan menjaga perkataannya agar tidak menyakiti satu sama lain. Segeralah untuk mencari jalan keluar untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Lima Ciri Suami yang Tidak Menghargai Istri

Menghargai pasangan menjadi hal yang kruasial dalam sebuah hubungan pernikahan. Sikap inilah yang akan menumbuhkan rasa saling menghormati serta perasaan berkasih sayang dalam keluarga. Sejatinya kedua belah pihak memiliki sikap saling menghargai agar lebih harmonis.

Akan tetapi, bukan hubungan berkeluarga namanya jika semuanya berjalan mulus. Selalu ada batu sandungan yang membuat keduanya semakin dewasa menjalani kehidupan. Misalnya tindakan suami yang tidak menghargai istrinya.

Lima hal ini mungkin saja pernah dirasakan para istri. Jika suami berlaku demikian, maka sebaiknya berkomunikasi langsung dengan pasangannya. Lantas bagaimana sikap suami yang tidak menghargai istrinya? Berikut ulasan lengkapnya.

1. Menganggap Pekerjaan Istri Hanya Menghabiskan Uang Saja
Ciri pertama suami yang tidak lagi menghargai istrinya adalah mereka menganggap bahwa pekerjaan sang istri itu hanya menghabiskan uang saja. Padahal jika suami mengetahui bahwa sebenarnya seorang itu memang berhak atas uang nafkah karena ia senantiasa melayani anda.

Pandangan mengenai anggapan bahwa istri itu hanya menghabiskan uang saja akan menghilangkan rasa penghargaan dan kasih sayang kepada istri. Jika istri memang sering melakukan keborosan dalam hal belanjang, ada baiknya sebagai suami mencoba untuk menasihati istrinya tersebut agar menyadari kesalahannya dan hanya membeli keperluan yang dibutuhkan saja.

Perbanyaklah sabar dan berlakulah lemah lembut dalam menasehati istri. Jangan sampai melakukan kesalahan saat menasihatinya yang dapat membuat hatinya terluka. Selalu serahkan semuanya kepada Allah SWT, agar keluarga tersebut diberi keberkahan.

2. Mudah Marah dan Bermain Tangan
Ciri selanjutnya suami yang tidak menghargai istri adalah mereka mudah marah dan bermain tangan. Suami yang mudah marah tentu juga berpotensi untuk meluapkan emosinya tersebut lewat tindakan yakni dengan melakukan kekerasan. Padahal sebenarnya perbuatan yang demikian ini tidak diperbolehkan baik secara hukum ataupun agama.

Mu’awiyah Al-Qusyairiy bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Ya Rasulullah apakah hak istri terhadap kami? Rasulullah menjawab:

Memberinya makan jika kamu makan, memberinya pakaian jika kamu memakai pakaian, jangan memukul wajah, jangan menghinanya, dan jangan menjauhinya kecuali dalam rumah. [Sunan Abu Daud: Sahih]

3. Mengambil Keputusan Sendiri Tanpa Minta Pendapat Istri
Ciri ketiga suami yang sudah tidak lagi menghargai istrinya ialah ia tidak lagi melibatkan istrinya tersebut dalam pengambilan keputusan. Meskipun suami merupakan pimpinan dalam rumah tangga, akan tetapi mereka tidak berhak mengambil semua keputusan secara sepihak. Akan tetapi, juga harus meminta pendapat dari istrinya. Ada baiknya jika ada sebuah masalah ataupun keputusan yang harus diambil terlebih dahulu didiskusikan kepada istri agar mendapatkan kesepakatan bersama. Tindakan yang demikian ini akan lebih membuat rumah tangga tersebut menjadi harmonis.

4. Membiarkan Istri untuk Membeli Segala Sesuatu dengan Uang Hasil Keringatnya Sendiri
Pada dasarnya, aktivitas mencari nafkah menjadi kewajiban bagi setiap suami. Nafkah tersebut nantinya akan diberikan kepada istri untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Namun, pada saat ini banyak juga istri yang membantu suami dalam mencari nafkah.

Akan tetapi, terkadang karena suami mengetahui bahwa istri sudah memiliki penghasilan sendiri maka mereka mengurangi bahkan menghilangkah jatah nafkah untuknya. Dengan alasan agar istrinya tersebut menjadi wanita yang mandiri.

Akibatnya sang istri akan menggunakan uang hasil keringatnya tersebut untuk membeli kebutuhan rumah tangga, pakaian dan lain sebagainya tanpa bantuan dana dari suami. Padahal hal yang demikian ini bukanlah sebuah tindakan yang baik. Selain tidak menghargai istri, perbuatan ini juga bisa menghinakan diri suami sebagai kepala keluarga.

5. Membuka Aib Istri di Hadapan Teman-Teman
Ciri suami terakhir yang tidak menghargai istrinya adalah mereka yang membuka aib istri kepada teman-temannya. Padahal sebenarnya, merupakan sebuah pantangan bagi lelaki sejati untuk mengeluh kehidupan pribadi kepada teman-temannya. Apabila jika menjadikan istrinya sendiri sebagai objek hinaan. Oleh sebab itu, ada baiknya untuk menghindari perkara yang satu ini. Karena menghina istri sama saja meludah ke atas langit yang akan berbalik pada wajah sendiri.

Demikianlah ulasan mengenai lima ciri suami yang tidak menghargai istri. Semoga artikel ini bermanfaat bagi para suami agar menjadi bahan koreksi dalam menjalani hubungan rumah tangga. Hargailah istri, sebab mereka adalah sosok yang senantiasa melayani anda dan keluarga.

Selasa, 12 Januari 2016

Baca Doa Ini Saat Bertengkar dengan Pasangan

Perasaan marah atau emosi tentu dimiliki oleh semua orang, tidak terkecuali pasangan suami istri. Akan tetapi mereka berusaha untuk mengurangi bahkan menghindari perasaan tersebut muncul agar hubungannya baik-baik saja.

Akan tetapi pada kenyataannya perasaan emosi bisa terjadi kapan saja. Ada banyak alasan yang bisa menyulut terjadinya emosi dalam sebuah hubungan. Mulai dari salah paham, kekurangan uang belanja hingga cemburu yang berlebihan.

Biasanya masalah-masalah seperti ini bisa menyebabkan pertengkaran dan hubungan menjadi renggang. Untuk menghindari hal tersebut, ternyata di dalam agama Islam telah diajarkan tentang doa yang bisa dibaca ketika sedang bertengkar dengan pasangan. Bagaimana bacaan doa tersebut? Berikut informasinya.

Ketika sedang bertengkar dengan pasangan, berusahalah untuk terus bersabar dan jangan sampai tersulut emosi yang berlebihan. Selain itu, bacalah doa berikut ini saat bertengkar dengan pasangan:

“A’uudzu billaahi minasy syaithaanirr rajiim. Allaahummaghfir lii dzanbii wa adzhib ghaidza qalbii wa ajirnii minasy syaithaanir rajiim.”

Artinya: “Aku berlindung dari godaan setan yang terkutuk. Ya Allah, ampunilah dosaku dan hilangkanlah kepanasan hatiku dan lepaskanlah aku dari setan yang terkutuk.” (HR. Bukhari Muslim).

Menurut riwayat Ibnu Sunni, Aisyah pada suatu hari sedang marah, maka Rasulullah Saw. bersabda kepadanya, “Ya Aisyah, bacalah olehmu zikir ini (diatas) supaya hilang kemarahanmu.”

Menurut riwayat Bukhari Muslim, Rasulullah Saw. berkata kepada salah seorang sahabat yang kala itu sedang memuncak kemarahannya, “Saya memiliki kalimat yang kalau dibaca maka hilanglah kemarahanmu, yaitu ta’awwudz ini (doa diatas).”

Selain membaca doa di atas, berusahalah untuk mengalah dan jangan mengedepankan ego masing-masing. Sebab ketika keduanya sama-sama egois, hal buruk berpotensi dapat terjadi pada hubungan anda dan pasangan.

Hindari pula kata-kata yang memaki ataupun menyakitkan lainnya, sebab hal ini bisa saja membuat pasangan menjadi sedih dan kecewa dengan sikap emosi anda yang terlalu berlebihan tersebut. Berusahalah untuk selalu menjadi pendengar yang baik ketika sedang bertengkar dan perbanyaklah introspeksi diri.

Demikianlah ulasan mengenai doa yang harus dibaca ketika pasangan sedang bertengkar. Belajarlah untuk selalu mengontrol emosi dan amarah, agar hubungan yang sudah dibina itu berjalan dengan baik dan jika terjadi masalah maka selesaikanlah dengan hati yang dingin dan pikiran yang tenang.

9 Ciri Lelaki Sholeh Idaman Muslimah

Setiap wanita muslimah tentu menginginkan lelaki sholeh untuk dijadikan sebagai pasangan hidup. Hal ini tentu saja menjadi hal yang sangat penting, sebab semua orang tentu ingin mendapatkan yang terbaik bagi kehidupannya.

Rasulullah SAW merupakan sosok suami sholeh yang bisa dijadikan sebagai panutan bagi seluruh lelaki di dunia ini. Semua perlakuan beliau terhadap istri-istri dan juga keluarganya adalah sebaik-baiknya perlakuan yang harus ditiru oleh lelaki sholeh dimanapun juga.

Untuk kaum muslimah yang sedang mencari pasangan hidup, carilah lelaki sholeh yang bisa membimbing keluarga untuk mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Berikut ini adalah sembilan ciri lelaki sholeh yang menjadi idaman para muslimah.

1. Kuat Amalan Agamanya dan Bagus Akhlaknya
Ciri lelaki sholeh pertama yang menjadi idaman para muslimah adalah ia yang kuat dalam melaksanakan amalan agamanya serta bagus akhlaknya. Lelaki yang memiliki ciri ini selalu menjaga shalat fardhunya dengan baik. Bahkan mereka juga sering berjamaah dan menjadi imam yang baik di rumah dan lingkungannya.

Pengetahuan tentang agama yang dimiliki istri melebihi istrinya. Hal itu membuat dirinya bisa mengajarkan istri, anak dan keluarganya serta bisa menjadi tempat bertanya bagi masyarakat sekitar. Sehingga lelaki sholeh demikian ini akan mengantar istri dan keluarganya dalam kebahagiaan dunia dan akhirat.

2. Penyantun dan Pengayom
Ciri selanjutnya adalah lelaki yang penyantun dan pengayom. Tipe lelaki seperti ini akan senantiasa berusaha agar istrinya hidup dalam berkecukupan dan tidak pernah merasa selalu khawatir akan menghadapi kesulitan hidup.

Ia akan selalu memastikan keluarganya dalam keadaan baik-baik saja dan membuat mereka merasa terlindungi dengan kepemimpinannya sebagai kepala keluarga. Tidak hanya itu, suami dengan tipe seperti ini juga selalu meletakkan beba istrinya ke tempat yang sangat rendah.

Ia tidak pernah segan untuk menolong pekerjaan istrinya walaupun itu adalah pekerjaan rumah tangga. Ia juga selalu berusaha untuk menempatkan istrinya sebagai wakil keluarga sehingga diharapkan sang istri akan nyaman untuk menyeleseaikan tugas dan urusannya dengan baik.

Rasulullah SWT sendiri merupakan sosok suami yang senantiasa mengayomi keluarga dan memberikan panutan pada umatnya. Seperti yang dikisahkan oleh Aisyah ra saat ditanya oleh sahabat mengenai apa yang dilakukan Rasulullah saat berada di rumah. Ia menjawab: “Beliau saw sebagaimana layaknya manusia pada umumnya, menjahit terompahnya, menambal pakaiannya, memerah susu kambingnya dan mengerjakan apa yang biasa dikerjakan oleh lelaki. Baru jika waktu shalat tiba, beliau keluar rumah.” (HR. Bukhari)

3. Berwibawa dan Pemurah
Tidak hanya penyantun dan pengayom, seorang suami sholeh yang menjadi idaman para muslimah juga harus memiliki ciri berwibawa dan pemurah. Ia tidak pelit dalam memberikan apa yang dibutuhkan oleh anak dan istrinya. Dengan penuh tanggung jawab ia akan mencari nafkah hanya untuk kebaikan keluarganya.

Meskipun ia suami tipe ini jauh dari kata pelit, akan tetapi ia juga selalu berusaha untuk bersikap berwibawa di mata keluarganya. Hingga istri dan anak-anaknya menjadi hormat dan segan padanya.

4. Ksatria di Luar Namun Lemah Lembut saat Berada di Tengah Keluarga
Ciri selanjutnya adalah lelaki yang memiliki keras di luar akan tetapi memiliki kelembutan saat berada di tengah keluarganya. Suami yang memiliki sifat ini rela untuk menentang kerasnya kehidupan dengan cara membanting tulang demi membuat keluarganya bahagia.

Ia selalu bersikap lugas, jujur dan tidak mau berkhianat untuk menafkahi keluarga. Akan tetapi setelah sampai di rumah, ia akan berlaku lembut kepada anak dan istrinya tersebut. Ketika di rumah, ia akan menjadi sosok ayah yang peyayang dan pelindung bagi keluarganya.

5. Tegas Mempertahankan Jati Dirinya dan Kuat Pendirian
Apabila suami tidak memiliki pendirian yang kuat dan juga tidak tegas dalam menghadapi suatu masalah, maka keluarga yang dia pimpin itu akan mengalami kegoyahan. Oleh sebab itu, banyak wanita yang menginginkan memiliki suami yang memiiliki ketegasan dan kuat dan berpendirian agar keluarga yang dibinanya itu menjadi aman dan nyaman.

6. Bersikap Sabar dan Pemaaf
Suami sholeh yang menjadi idaman muslimah selanjutnya adalah ia memiliki sifat sabar dan pemaaf. Seorang suami tentu saja harus memiliki sikap sabar dalam menghadapi anak dan istrinya. Jika memilikii suami yang tidak pemarah dan selalu bisa memaafkan kesalahan keluarga serta istrinya, maka ia adalah sosok suami teladan.

7. Bersikap Amanah
Tidak hanya harus memiliki sikap sabar dan pemaaf, akan tetapi setiap suami sholeh haruslah memiliki sikap amanah. Lelaki tipe ini tidak akan megabaikan tugas yang diberikan dan tidak akan menyalahgunakan kekuasaan juga kedudukannya yang bisa saja menghancurkan keluarga seperti dengan melakukan korupsi, penggelapan keuangan dan lain sebagainya. Akan tetapi, lelaki seperti ini akan bersikap amanah apabila diberikan suatu tanggung jawab.

8. Mampu Memimpin dan Mendidik Anak serta Istri
Ciri selanjutnya yang dimiliki orang seorang lelaki sholeh adalah ia mampu memimpin serta mendidik anak dan istrinya agar mamiliki akhlak terbaik. Tidak hanya itu, sosok lelaki yang demikian ini juga akan membuatnya menjadi nyaman. Bahkan keluarga tersebut bisa menjadi panutan bagi keluarga-keluarganya di sekitarnya.

9. Dapat Menjaga Perilakunya di Dalam dan Di Luar Rumah dengan Baik
Ciri terakhir dari lelaki sholeh yang menjadi idaman adalah ia yang mampu menjaga perilakunya baik di dalam ataupun di luar rumah. Di dalam rumah, ia akan menjadi sosok suami teladan akan tetapi saat di luar rumah ia juga menunjukkan perilaku yang baik.

Demikianlah informasi mengenai 9 ciri lelaki sholeh idaman para muslimah. Ada baiknya sebagai umat muslim untuk melakukan segala amal kebaikan agar bahagia di dunia dan akhirat. Berprilakulah yang baik agar Allah senantiasa menghadiahi keberkahan kebapada kita, termasuk untuk mendapatkan jodoh.

Senin, 11 Januari 2016

Ternyata Sayang Istri Bikin Rezeki Suami Lancar

Lamanya usia pernikahan tidak jarang membuat perasaan sayang suami terhadap istri memudar. Hal ini terjadi bisa saja karena fisik istri tidak secantik dulu, wanita idaman lain, dan berbagai hal yang membuat kasih sayang manjadi pudar. Idealnya suami menjaga rasa sayangnya kepada istri meski usia pernikahan sudah berlangsung lama.

Pasalnya wanita tersebutlah yang akan setia menemaninya dibanding dengan Ibunya yang lebih memilih hidup bersama ayahnya, atau anak yang lebih memilih hidup bersama suaminya kelak. Istri lah yang mau menemani suami hingga nantinya ajal menjemput.

Sehingga sudah selayaknya wanita ini mendapat limpahan kasih sayang. Ternyata ada hikmah lain dibalik keharusan suami melimpahkan kasih sayang untuk istri. Rasa kasih itu disebut-sebut mampu lancarkan rezeki suami.  Mengapa demikian? Berikut alasannya.  

1. Rasa Sayang pada Istri Akan Melahirkan Tanggung Jawab untuk Menafkahi
Alasan yang pertama adalah karena rasa sayang terhadap istri akan melahirkan tanggung jawab untuk menafkahinya dan memenuhi kebutuhan keluarga. Apabila seorang suami memang benar-benar menyayangi istrinya, maka ia akan selalu berusaha agar bisa memberikan kebahagiaan kepada istrinya tersebut lewat nafkah yang dicarinya.

Tidak hanya itu, menyayangi istri juga akan mendorong suami untuk mencari berbagai cara halal dalam mencukupi segala kebutuhan keluarga tersebut. Dengan melakukan hal ini maka akan membuat pintu rezeiki lainnya terbuka bagi ia dan keluarga.

Akan berbeda dengan suami yang rasa sayangnya kurang terhadap istri. Ia akan menganggap bahwa mencari nafkah untuk istri merupakan suatu beban berat lagi menyebalkan. Itulah penyebabnya, rezeki dari suami yang kurang sayang istri akan menyempit. Ia bahkan akan merasa bahwa gaji sebanyak apapun atas selalu kurang. Ditambah lagi, lelaki tipe ini akan malas untuk mencari uang tambahan demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

2. Rasa Sayang pada Istri akan Mengundang Rasa Sayang Allah pada Pasutri Tersebut

Ketika suami dan istri saling menyayangi satu sama lain, maka hal paling indah yang akan terjadi adalah pasangan tersebut juga akan disayangi oleh Allah SWT. Dengan limpahan kasih sayang dari Allah tersebut, maka sudah pasti Allah akan melimpahkan rezeki yang halal bagi pasangan tersebut. Dengan demikian semakin mengalirlah rezeki keduanya beserta keluarganya.

3. Rasa Sayang pada Istri akan Melahirkan Ketenangan dalam Rumah Tangga
Alasan ketiga yakni dengan rasa sayang suami kepada istri akan melahirkan ketenangan dalam rumah tangga pasangan tersebut. Hal ini tentu akan berbeda dengan pasnagan yang saling benci, saling maki setiap harinya. Di dalam keluarga yang demikian tentu tidak akan ada ketenangan dan ketentraman sebab selalu dihiasai dengan pertengkaran.

Jangankan untuk memperlancar rezeki, kebiasaan bertengkar dengan pasangan ini akan membuat si suami sulit berkonsentrasi saat bekerja. Sebab selalu tersiksa kala mengingat pertengkatan dengan istrinya.

Padahal sebenarnya, ketenangan dalam rumah tangga menjadi suatu hal yang penting. Kasih sayang suami dan istri akan membuat suami fokus sehingga menyebabkan rezeki yang diperolehnya menjadi lebih lancar dan luar biasa.

4. Rasa Sayang pada Istri akan Membuat Suami Merasa Cukup
Alasan terakhir sayang kepada istri akan menyebabkan rezeki suami lancar adalah hal tersebut dapat membuat suami merasa cukup. Dengan perasaan sayang itu, suami akan merasa cukup terhadap istrinya sehingga tidak perlu ‘melihat pada yang lain’.

Dengan demikian, tentu saja pikiran suami hanya fokus kepada istrinya saja. Tanpa harus membagi perhatian dan rezeki kepada wanita yang tidak halal untuknya. Ia tidak akan pernah menyakiti istri yang disayanginya tersebut. Hal ini inilah yang akan membuat rezeki suami tersebut menjadi lancar.

Demikianlah beberapa alasan rezeki suami akan lancar apabila sayang terhadap istrinya. Ingatlah bahwa istri adalah sosok yang bisa membawa sebuah keluarga menuju surga Allah SWT. Maka dari itu, teruslah sayangi dia agar mendapatkan keridhaan dari Allah serta memperlancar rezeki. Semoga informasi ini bisa mengispirasi semua keluarga.

Istri, Lakukan Empat Hal Ini Agar Jadi Bidadari untuk Suami

Bidadari surga merupakan makhluk yang sangat istimewa ciptaan Allah SWT. Wujudnya sangat cantik jelita dan juga memiliki tingkah laku yang sangat baik. Sungguh sosok yang demikian merupakan idaman bagi para suami.

Dengan segala keistimewaan yang dimiliki bidadari surga tersebut, tentu akan menjadi tantangan tersendiri bagi wanita di dunia ini untuk terus berusaha agar bisa menyamai karakteristik bidadari surga tersebut.

Ternyata ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh istri agar bisa menjadi seorang bidadari bagi suami mereka selama berada di dunia. Lalu hal apa saja yang harus dilakukan oleh istri tersebut? Berikut ini ulasan selengkapnya.

1. Manis Ucapannya, Santun Perkataannya
Hal yang harus dilakukan oleh seorang istri agar menjadi bidadari bagi suaminya adalah ia yang memiliki ucapan manis dan santun dalam berkata. Dengan sikap yang demikian, akan membuat suami merasa nyaman diperhatikan dan merasa dihargai oleh istrinya. Selain itu, apabila sikap tersebut terus menerus dilakukan maka akan benih-benih cinta sang suami akan semakin tumbuh.

2. Lembut Perilakunya, Baik Akhlaknya
Tidak hanya manis dalam berucap dan santun dalam berkata, ternyata istri akan bisa menjadi bidadari di dunia kelak bagi suaminya apabila lembut perilakunya dan baik akhlaknya. Setiap orang tentu suka berinteraksi dengan orang yang berakhlak mulia, tanpa terkecuali seorang suami.

Oleh sebab itu, lembutlh dalam bersikap kepada suami dan selalu tunjukkan akhlak yang mulia. Dengan demikian akan membuat suami merasa nyaman dan bersyukur karena telah memilih pasangan hidup yang baik.

3. Berhias dan Harum Bau Tubuhnya Saat Bersama Suami
Langkah selanjutnya agar menjadi bidadari di dunia bagi suami adalah dengan berhias dan memiliki tubuhnya saat bersama suami. Oleh sebab itu, untuk para istri berhiaslah dan percantiklah diri ketika sedang bersama istri.

Karena istri yang shalehah itu bukan hanya yang tekun beribadah saja, akan tetapi seorang istri juga harus bisa menyenangkan suami ketika ia memandangnya. Sebaik-baiknya seorang perempuan shalehah harus senantiasa menjaga daya tarik dirinya bagi suaminya.

Apabila suami ada di rumah, pakailah wewangian yang disukai olehnya. Jangan pernah menggunakan sesuatu yang dirasa tidak pantas saat suami ada di rumah. Selain itu, jauhkanlah diri dari berdandan abis-abisan saat berada di luar rumah.

4. Senantiasa Selalu Berusaha Mendapatkan Hati dan Cinta Suami
Langkah terakhir yang harus dilakukan oleh seorang istri agar menjadi bidadari suami adalah dengan senantiasa berusaha untuk mendapatkan hati dan cinta sang suami. Selain itu, bersuahalah untuk selalu mengharap ridha suaminya.

Istri yang shalehah senantiasa menyadari bahwa ridha dari suami merupakan jalan untuk mendapatkan ridha dari Allah SWT. Selain itu, ia juga menyadari sepenuhnya mengenai hak-hak suami serta memuliakannya dengan sepenuh hatinya.

Demikianlah informasi mengenai empat hal yang harus dilakukan oleh istri agar menjadi “bidadari” bagi suaminya saat berada di dunia. Amalkanlah keempat hal tersebut, selain untuk membuat hubungan semakin harmonis juga akan mendatangkan keberkahan dari Allah SWT.

Jumat, 08 Januari 2016

Enam Cara Istri Menyambut Suami Pulang Kerja

Mencari nafkah untuk kebutuhan rumah tangga memang menjadi kewajiban bagi seorang suami. Oleh sebab itu, mereka dianjurkan untuk mencari pekerjaan yang halal agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga tersebut.

Akan tetapi, sebagai seorang istri juga harus mengerti bahwa ketika suami pulang kerja juga ingin mendapatkan perlakuan yang khusus. Banyak suami yang mengidamkan memiliki istri yang menjadi pendamping yang mampu menghilangkan kelelahan setelah mereka bekerja seharian.

Oleh sebab itu, istri juga memperhatikan cara menyambut suami setelah pulang kerja. Lalu bagaimakah sebenarnya cara untuk menyambut suami tersebut? Berikut informasi selengkapnya untuk para istri agar bisa dipraktekkan di rumah.

1. Menaruh Simpati
Hal pertama yang harus dilakukan oleh seorang istri saat menyambut suami pulang kerja adalah dengan menaruh simpati kepadanya. Sebagai seorang istri yang baik, harus bisa memahami dunia suaminya yang harus bekerja demi menafkahi keluarga.

Oleh karen itu, wanita harus memahami posisi pria yang bekerja keras sepanjang hari tersebut. Maka seorang wanita harus lebih memberi rasa syukur dan terimakasih atas tanggung jawab yang diemban oleh sang suami. Dengan demikian, wanita akan dapat bersikap lebih baik untuk menunjukkan rasa terimakasih dan penghargaan kepada suaminya tersebut.

2. Senyum Manis
Ketika menyambut suami yang pulang bekerja usahakanlah untuk senyum manis. Senyum manis tersebut menjadi senjata paling ampuh yang dapat membuat hati pria berbunga-bunga. Usahakanlah untuk tidak menunjukkan raut wajah yang tidak menyenangkan saat suami pulang dari tempat kerja. Hal tersebut selain bisa membuat hati suami bahagia, juga bisa menghilangkan perasaan lelah mereka.

3. Berpenampilan Menarik
Tidak dapat dipungkiri bahwa seorang suami menginginkan istrinya untuk tampil cantik. Itulah sebabnya, ketika menyambut kedatangan suami dari tempat kerja usahakanlah untuk tetap memperhatikan penampilan.

Jangan sambut suami dengan memakai daster, rambut acak-acakan dan badan yang bau masakan. Namun usahakanlah untuk dandan, tapi jangan tampil terlalu over, gunakan riasan yang natural saja, pakaian yang pantas dan  wewangian demi menyenangkan hati suami.

4. Mempersiapkan Kebutuhan Suami
Ketika suami pulang kerja, mereka tentu merasa letih dan kelelahan yang luar biasa. Oleh sebab itu, hal yang harus dilakukan oleh seorang istri ketika menyambutnya adalah dengan menyediakan segala keperluaannya. Seperti menyediakan perlengkapan mandi, dan menyuguhkan makanan untuknya. Dengan demikian akan membuat suami merasa senang karena diperhatikan oleh istrinya.

5. Biarkan Suami Beristirahat Sejenak

Banyak istri yang mengeluh saat suaminya baru pulang dari kerja. Entah itu karena gas yang habis, atau anak-anak yang malas makan dan lain sebagainya. Apapun masalah yang dihadapi, usahakan jangan mengungkapkannya saat suami baru sampai di rumah.

Ia juga merasa lelah dengan aktivitas kerja seharian. Keluhan-keluhan yang demikian ini justru akan membuatnya semakin bertambah pusing dan stres. Padahal sebenarnya, ia mengimpikan bisa beristirahat dengan tenang saat tiba di rumah.

6. Buat Suasana Rumah Nyaman dan Menyenangkan
Hal terakhir yang harus dilakukan oleh istri untuk menyambut suami saat pulang kerja adalah dengan membuat suasana rumah menjadi nyaman dan menyenangkan. Jadikan diri sebagai sosok yang menarik di mata suami. Jangan buat suasana yang tidak enak saat ia sampai di rumah, karena hal demikian bisa membuat ia berpikir untuk berada di luar rumah saja dengan suasana yang lebih menyenangkan.

Demikianlah ulasan mengenai enam cara menyambut suami saat pulang kerja. Ada baiknya untuk mengikuti cara-cara di atas agar membuat hubungan suami istri semakin harmonis karena saling pengertian satu sama lain.

Kamis, 07 Januari 2016

Enam Rahasia Hati Suami yang Jarang Diketahui Istri

Hubungan rumah tangga seharusnya selalu dihiasi oleh keterbukaan dan kejujuran antar pasangan. Hal ini bisa menjadi salah satu faktor keharmonisan dalam membina hubungan keluarga. Selain itu, dibutuhkan juga kesetiaan dan rasa saling percaya satu sama lain.

Namun tidak jarang banyak orang yang cenderung menyembunyikan suatu hal dari pasangannya. Hal ini biasanya dilakukan oleh pihak suami karena mereka tidak bisa untuk mengungkapkan apa yang mereka inginkan kepada istrinya.

Banyak suami yang lebih suka memendam setiap keinginannya dari sang istri hingga akhirnya menjadi rahasia hati untuk dirinya sendiri. Berikut ini adalah informasi mengenai enam rahasia hati suami yang jarang diketahui oleh istri.

1. Terkadang Suami Ingin Istrinya Menjadi Pemimpin dan Mengambil Keputusan Sendiri

Dalam ajaran Islan, laki-laki sesungguhnya adalah pimpinan bagi seorang wanita. Merekalah yang memutuskan setiap pilihan dalam kehidupan rumah tangga. Akan tetapi, sebenarnya ada rahasia hati suami yang tidak diketahui oleh istri, yakni terkadang suami juga ingin istrinya menjadi pemimpin dan mengambil keputusan sendiri.

Banyak suami yang tidak jujur dengan hal tersebut, namun biasanya pria mengungkapnya secara tidak nyata. Hal ini bisa terlihat ketika dari sikap dan prilakunya yang berbeda ketika menjawab sebuah pilihan. Jika ia hanya memberikan jawaban pendek tentang hal yang harus diputuskan, berarti ini menyerahkan keputusan tersebut kepada sang istri.

2. Suami Ingin Istrinya Tahu Jika Dia Sangat Mencintai Anda
Hal kedua yang menjadi rahasia hati seorang suami adalah dia ingin istrinya tahu bahwa dia sangat mencintai istrinya tersebut. Mengapa hal ini justru menjadi rahasia hati para suami? Alasannya adalah, banyak pria yang tidk suka berlebihan dalam mengungkap rasa cinta kepada istrinya.

Mereka tidak akan berkata bahwa ia mencintai istrinya secara langsung dan setiap waktu. Namun ia justru menginginkan istrinya tersebut tahu bahwa ia sangat cinta lewat tindakan yang dilakukannya sepanjang hari. Contohnya ketika membelai rambut atau menggenggam jemari ketika berjalan. Ketika hal demikian dilakukan oleh suami, maka ucapkanlah bahwa anda sangat mencintainya.

3. Suami Ingin Istrinya Mandiri
Banyak suami yang menginginkan istrinya belajar mandiri dan tidak hanya bergantung kepada dirinya. Akan tetapi, keinginan tersebut tidak tersampaikan secara langsung. Melainkan hanya tersimpan di dalam hatinya saja.

Para suami mungkin lebih untuk belajar mengerti suami yang manja. Namun terkadang ia juga ingin istrinya melakukan pekerjaan yang dapat dilakukan sendiri tanpa bantuannya. Jadi sebagai istri, mengertilah bahwa suami juga memiliki hak untuk hidup tenang dengan tidak direpotkan oleh perkara-perkara sepele yang sebenarnya bisa dilakukan seorang diri.

4. Suami Ingin Selalu dihargai Istri
Terlihat dari luar bahwa seorang lelaki adalah makhluk yang tidak terbawa perasaan atas segala sesuatu. Namun, tanpa diketahui ternyata ada hal-hal yang bisa membuka sisi sensitif dari seorang suami. Hal tersebut bisa saja dilakukan oleh istri tanpa sengaja dan pada akhirnya menyakiti hati suaminya.

Kebanyakan wanita tidak menghargai pemberian suami, misalnya saja mengenai nafkah. Istri merasa tidak puas dengan pemberian suami tersebut lalu mengolok-oloknya. Hal ini tentu saja membuat suami kecewa, karena hasil jerih payahnya tidak dihargai.

Padahal sebenarnya, sebagai seorang istri haruslah bersyukur atas segala hal yang diberikan suami kepadanya. Terima saja dengan ikhlas pemberian tersebut meskipun kurang demi menyenangkan hatinya.

5. Suami ingin Istrinya Memiliki Satu hari hanya Untuk Bersamanya
Fenomena rumah tangga yang terjadi saat ini adalah banyaknya istri yang memilih untuk ikut membantu perekomian keluarga dengan bekerja di luar rumah. Akibatnya, banyak waktu yang dipergunakan untuk berada di luar rumah dibandingkan dengan keluarga.

Itulah yang kemudian menyebabkan suami ingin istrinya memiliki satu hari saja untuk bersamanya. Namun hal ini tidak disampaikan secara langsung, melainkan hanya dipendam di dalam hati. Harusnya sebagai istri harus peka terhadap hal tersebut. Sempatkan waktu untuk berkumpul dengan keluarga dan jangan abaikan mereka meski sesibuk apapun.

6. Suami Berharap Istri Mengerti Tentangnya
Usia pernikahan terkadang tidak menentukan apakah pasangan suami istri sudah mengenal satu sama lain. Kebanyakan dari pihak wanita selalu berharap suami mereka mengerti setiap keiinginannya tanpa melakukan hal yang sama. Padahal sebenarnya, sebagai seorang istri juga harus mengetahui bahwa suami juga ingin dimengerti meskipun mereka tidak pernah mengungkapkannya secara langsung.

Demikianlah informasi mengenai enam rahasia hati suami yang jarang diketahui oleh istri. Meskipun keterbukaan memang sangat dibutuhkan dalam hubungan rumah tangga. Namun banyak suami yang lebih memilih untuk diam dengan beberapa hal yang sebenarnya mereka inginkan. Ada baiknya untuk saling terbuka satu sama lain, agar hubungan rumah tangga berjalan harmonis dan nyaman.

Rabu, 06 Januari 2016

Delapan Kalimat Terlarang yang Diucapkan Ibu Kepada Anak

Membentuk karakter anak sudah harus dimulai saat usianya masih balita. Dalam rentang waktu tersebut, anak mudah menyerap apa yang diajarkan orang tua serta lingkungan sekitarnya.

Itulah mengapa orang tua harus ekstra berhati-hati menjaga pergaulan anak ketika masih dalam periode balita. Mereka dengan mudah menyerap semua hal yang diajarkan, apakah itu hal baik atau buruk. Termasuk juga menjaga ucapan sang ibu kepada anak.

Ibu merupakan pendidik pertama untuk anak-anaknya. Cara mendidiknya adalah dengan cara lisan atau ucapan. Sayang, banyak Ibu yang justru mengeluarkan kalimat yang dapat mempengaruhi mental anak kelak. Ada kalimat yang sebaiknya ditiadakan agar karakter anak terbangun dengan baik. Apa saja? Berikut ringkasannya.

1. Memberikan Pernyataan Negatif tentang Diri Anak
Pernyataan negatif tentang anak akan membuat hati anak tersakiti. Bahkan ini akan melekat menjadi pribadi mereka saat sudah dewasa. Kalimat-kalimat negatif contohnya “Kamu anak yang pelit!”, “Kamu pemalas!”,“Kamu gendut!”, “Kamu nakal!” dan kalimat negatif lainnya. Mereka akan benar-benar seperti apa yang orang tua mereka katakan. Sungguh berbahaya, mengingat kata-kata seorang ibu bisa berarti doa untuk anak-anaknya.

2. Jangan katakan “Jangan Ganggu, Ibu Sibuk!”
Terkadang kesibukan pekerjaan baik rumah maupun kantor membuat Ibu mengabaikan anak. Ketika anak datang menghampiri, biasanya kalimat “Jangan Ganggu, Ibu Sibuk!” ini cukup ampuh membuat anak-anak berhenti mengganggu.

Sekilas, hal ini terlihat normal. Berdasarkan penelitian dari seoarang pelatih bela diri verbal, Suzette Haden Elgin PhD, tindakan demikian akan membuat anak merasa tidak berarti. Jika menerima perlakuan seperti ini setiap hari, maka tidak mengherankan jika saat sudah besar mereka akan merasa tidak ada gunanya berbicara dengan orangtua.

3. Jangan katakan “Jangan Menangis!”
Kalimat “jangan menangis” merupakan kalimat yang sering diucapkan Ibu untuk mendiamkan anak. Biasanya anak menangis karena berkelahi dengan teman, kakak, atau ketika mereka terjatuh. Namun Ibu tidak lantas harus segera mendiamkan anak dengan cara menyuruhnya diam. Kalimat lain yang sering mengikuti kalimat ini adalah “Jangan cengeng!”, “Jangan sedih!”, “Jangan takut!”.

Menurut seorang ahli psikologi anak, Debbie Glasser, kalimat-kalimat tersebut akan membuat anak merasa bahwa menangis adalah tindakan yang tidak umum. Sehingga ketika dewasa nanti, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang keras dan tidak mudah tersentuh.

4. Jangan Membanding-bandingkan Anak
Contoh kalimat-kalimat ini misalnya “Lihatlah kakakmu, dia bisa melakukannya dengan cepat. Mengapa kamu tidak bisa melakukannya juga?” “Temanmu bisa menggambar dengan bagus, kenapa kamu tidak?” “Dulu ketika kecil ibu bisa begini begitu, masa kamu tidak bisa?!” Kalimat ini akan membuat anak-anak merasa bingung dan akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri. Bahkan tidak jarang anak akan membenci orang tuanya karena selalu dibanding-bandingkan dengan orang lain.

5. Jangan katakan “Tunggu Ayah Pulang ya! Biarkan kamu dihukum ayah”
Kalimat ini sering terjadi ketika anak melakukan kesalahan sementara ayahnya berada di kantor. Maka Ibu dengan mudah biasanya akan mengatakan kalimat “Tunggu Ayah Pulang ya! Biarkan kamu dihukum ayah”

Hal ini justru akan memperburuk keadaan karena Ibu malah menunda untuk mengatakan kesalahan anak. Ada kemungkinan bahwa ketika seorang ibu menceritakan kembali kesalahan yang dilakukan anak-anak mereka, ibu malah membesar-besarkan sehingga anak-anak menerima hukuman yang lebih dari seharusnya. Ada kemungkinan juga orang tua menjadi lupa kesalahan anak-anak mereka, sehingga kesalahan yang seharusnya dikoreksi terabaikan.

6. Jangan Terlalu mudah dan berlebihan memberi pujian
Memberikan pujian berlebihan kepada anak tidak selamanya baik. Karena hal ini akan terkesan murah bagi ana. Oleh karena itu jika seorang anak melakukan sesuatu yang sederhana, tidak perlu memuji dengan “Luar Biasa! Luar Biasa!” Karena anak secara alamiah akan mengetahui hal-hal yang dia lakukan dengan biasa-biasa saja atau luar biasa. Sekiranya ia mendapat hasil bagus di sekolah, pujilah sekedarnya dengan mengucapkan “Alhamdulillaah. Jika kita memuji hasil yang dilakukan anak dan bukan sikapnya, sangat mungkin anak kita akan berfokus pada hasil dan tidak peduli dengan sikap/ karakter yang baik.

7. Jangan Katakan “Kamu Selalu…” atau “Kamu tidak pernah…”
Janganlah melontarkan kalimat dengan “Kamu selalu….” atau “Kamu tidak pernah…”. Memang, kata-kata ini kadang refleks langsung terucap oleh orangtua, namun hindarilah penggunaan kalimat ini.

“Hati-hati, kedua kata-kata itu ada makna di dalamnya. Di dalam pernyataan “Kamu selalu…” dan “Kamu tidak pernah” adalah label yang bisa melekat selamanya di dalam diri anak,” ujar Jenn Berman PhD, seorang psikoterapis.

Berman mengungkapkan, kedua pernyataan yang kerap dilontarkan oleh orang tua ini akan membentuk kepribadian anak. Anak-anak akan menjadi seperti apa yang dikatakan terhadap dirinya. Bila orangtua mengatakan sang anak selalu lupa menelepon ke rumah jika pulang terlambat, maka ia akan menjadi anak yang tidak pernah menelepon ke rumah.

8. Jangan katakan “Bukan begitu caranya, sini biar ibu saja!”
Kalimat ini juga sering diucapkan Ibu ketika tidak sabar melihat proses kerja anak. Kalimat ini biasanya terucap ketika anak membantu orang tuan namun tidak melakukan seperti apa yang diinginkan Ibu. Dr Berman mengatakan ini merupakan sebuah kesalahan. Kalimat ini membuat anak tidak mengerti cara yang benar dalam menyelesaikan sesuatu.

Selasa, 05 Januari 2016

Inilah 17 Wanita yang Haram Dinikahi Pria

Pernikahan merupakan sunnah Rasul yang akan mendatangkan pahala yang besar jika dilakukan. Namun tidak dengan wanita-wanita berikut ini. Allah SWT dan rasul-Nya mengharamkan pria menikahi sepuluh wanita ini selamanya.

Bukannya mendapatkan pahala, pernikahan dengan wanita-wanita yang diharamkan ini justru akan mendatangkan petaka. Tidak hanya terlarang oleh agama, namun pernikahan ini akan berdampak terhadap kesehatan keturunan yang nantinya dilahirkan.

Umat Islam tentu perlu mengetahui siapa saja wanita yang diharamkan untuk dinikahi tersebut. Mengingat banyaknya kasus pernikahan yang tiba-tiba menghebohkan karena dianggap tidak lazim terjadi. Lantas siapa saja wanita yang haram dinikahi pria? Berikut ulasannya.

Allah SWT secara tegas melarang pria menikahi wanita karena hubungan nasab. Hal ini dijelaskan dalam qalam Allah QS. An-Nisaa’ : 23 yang artinya:

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, [QS. An-Nisaa’ : 23]

Berdasarkan surat di atas dapat dikelompokan sebagai berikut: 

1. Ibu. Merupakan wanita yang sudah melahirkannya.  Termasuk juga nenek, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu dan seterusnya ke atas.

2.  Anak perempuan. Yang dimaksud adalah wanita yang lahir karenanya, termasuk cucu perempuan dari pihak laki-laki maupun dari pihak perempuan dan seterusnya ke bawah.

3.  Saudara perempuan, seayah seibu, seayah saja atau seibu saja.

4.  ‘Ammah, yaitu saudara perempuan ayah, baik saudara kandung, saudara seayah saja atau saudara seibu saja.

5.  Khaalah, yaitu saudara perempuan ibu, baik saudara kandung, saudara seayah saja atau saudara seibu saja.

6.  Anak perempuan dari saudara laki-laki (keponakan), dan seterusnya ke bawah.

7.  Anak perempuan dari saudara perempuan (keponakan), dan seterusnya ke bawah.

Allah SWT juga mengharamkan pria menikah dengan wanita sepersusuan.Hal ini dijelaskan dalam QS. An-Nisa : 23 yang artinya.

haramkan atas kamu ibumu yang menyusui kamu dan saudara-saudara perempuan sepesusuan. [QS. An-Nisa : 23]

Rasulullah SAW juga bersabda terkait hal ini yang artinya : Diharamkan karena hubungan susuan sebagaimana yang diharamkan karena hubungan nasab”. [HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad, Nasai dan Ibnu Majah]

Dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya para shahabat menginginkan Nabi SAW menikahi anak perempuan Hamzah. Maka beliau SAW bersabda, “Sesungguhnya dia tidak halal bagiku, karena dia adalah anak saudaraku sepesusuan. Sedangkan, haram sebab susuan itu sebagaimana haram sebab nasab (keluarga)”. [HR. Muslim II : 1071]

Dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah bahwasanya ia mengkhabarkan kepada ‘Urwah, bahwa paman susunya yang bernama Aflah minta ijin pada ‘Aisyah untuk menemuinya. Lalu ‘Aisyah berhijab darinya. Kemudian ‘Aisyah memberitahukan hal itu kepada Rasulullah SAW, maka beliau bersabda, “Kamu tidak perlu berhijab darinya, karena haram sebab susuan itu sebagaimana haram sebab nasab”. [HR. Muslim II : 1071]

Dalam ayat dan hadist di atas dapat ditarik kesimpulan siapa saja wanita sepersusuan tersebut:

8. Ibu susu, merupakan ibu yang menyusuinya, sehingga haram keduanya melakukan perkawinan. 

9. Nenek susu, yakni ibu dari wanita yang pernah menyusui atau ibu dari wanita yang pernah menyusuinya.

10. Anak susu, merupakan anak dari wanita yang pernah disusu oleh pria tersebut.  Termasuk juga cucu dari anak susu tersebut.

11. Bibi susu. Yakni saudara perempuan dari wanita yang menyusuinya atau saudara perempuan suaminya wanita yang menyusuinya.

12. Keponakan susu, yakni anak perempuan dari saudara sepesusuan.

13. Saudara sepesusuan.

Pria juga mengharamkan menikahi wanita karena hubungan mushaharah (perkawinan) seperti yang dijelaskan dalam An-Nisaa’ : 23

Ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan) maka tidak berdosa kamu mengawininya, (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu). [QS. An-Nisaa’ : 23]

Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). [An-Nisaa’ : 22]

Dari dalil-dalil di atas dapat dipahami bahwa wanita yang haram dinikahi karena hubungan mushaharah adalah sebagai berikut :

14. Mertua perempuan dan seterusnya ke atas.

15. Anak tiri, dengan syarath kalau telah terjadi hubungan kelamin dengan ibu dari anak tiri tersebut.

16. Menantu, yakni istri anaknya, istri cucunya dan seterusnya ke bawah.

17. Ibu tiri, yakni bekas istri ayah (Untuk ini tidak disyarathkan harus telah ada hubungan kelamin antara ayah dan ibu tiri tersebut).

Ketahui 4 Kriteria Memilih Jodoh Menurut Islam

Memilih seseorang untuk menjadi pendamping yang sesuai dengan kriteria memang tidak mudah. Banyak hal yang dipertimbangkan untuk menentukan siapa orang yang tepat menemani sepanjang hidup tersebut.

Memang, memilih pasangan merupakan urusan perasaan, sehingga ketika menemukan seseorang dirasa cocok, maka seseorang akan mengabaikan hal-hal yang seharusnya menjadi kriteria wajib. Padahal kriteria ini dapat menentukan baik tidaknya kelangsungan keluarga kelak. 

Agama Islam mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk urusan jodoh. Menurut hadist Nabi Muhammad SAW, setidaknya ada 4 kriteria ketika seseorang ingin mencari pendamping hidup. Apa saja kriteria tersebut? Berikut ringkasannya.

Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Perempuan dinikahi karena empat faktor. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka menangkanlah wanita yang mempunyai agama, engkau akan beruntung.” (HR Bukhari, Muslim, al-Nasa’i, Abu Dawud Ibn Majah Ahmad ibn Hanbal, dan al-Darimi dalam kitabnya dari sahabat Abu Hurairah ra)

Hadist ini mengisyaratkan bagaimana memilih jodoh yang baik. Meski Nabi mendahulukan harta, nasab, dan  kecantikan namun junjungan alam ini dalam akhir hadistnya mengatakan bahwa sebaiknya memenangkan mereka yang baik agamanya. Hal ini menandakan bahwa sebenarnya agama  merupakan kriteria paling utama. Berikut penjelasan dari masing-masing kriteria tersebut.

1. Pilihlah Jodoh yang Baik Agamanya, Yakni Taat kepada Allah dan Rasul-Nya
Agama seharusnya dijadikan kriteria utama ketika seseorang menentukan pasangan hidup. Jika tidak bisa mendapatkan tiga kriteria lainnya yang sudah ditetapkan Nabi SAW diatas, minimal harus mendapat satu kriteria ini. Orang yang baik agamanya pastinya memiliki tingkat ketaqwaan yang tinggi. Sehingga akan membawa keluarga yang taat pada aturan Allah dan Rasul-Nya.

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertaqwa.” (QS. Al Hujurat: 13)

Dengan penuh ketaqwaan maka si calon jodoh ini akan menjaga diri dari adzab Allah  dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Untuk itu, carilah jodoh yang taat kepada aturan agama. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam juga bersabda:

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi. Al Albani berkata dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi)

“Orang yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapat kebaikan akan dipahamkan terhadap ilmu agama.” (HR. Bukhari-Muslim)

2. Enak Dipandang Karena Kecantikan atau Ketampanannya
Tidak bisa dipungkiri jika faktor fisik juga menjadi salah satu kriteria ketika memilih pasangan. Hal ini juga diperbolehkan oleh Rasulullah SAW karena menjadi salah satu faktor penunjang kehidupan keluarga. Hal tersebut sejalan dengan tujuan dari pernikahan, yaitu untuk menciptakan ketentraman dalam hati.
Allah Ta’ala berfirman,

“Dan di antara tanda kekuasaan Allah ialah Ia menciptakan bagimu istri-istri dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram denganya.” (QS. Ar Ruum: 21)

Rasulullah SAW dalam sebuah hadistnya juga menyebutkan tentang kriteria ini. 

“Jika memandangnya, membuat suami senang.” (HR. Abu Dawud. Al Hakim berkata bahwa sanad hadits ini shahih)

Itulah mengapa dalam taaruf pun Islam menetapkan agar keduanya saling melihat ketika hendak dilamar.  Sehingga baik laki-laki maupun perempuan dapat mempertimbangkan wanita yang yang hendak dilamarnya dari segi fisik.

“Sudahkah engkau melihatnya?” Sahabat tersebut berkata, “Belum.” Beliau lalu bersabda, “Pergilah kepadanya dan lihatlah ia, sebab pada mata orang-orang Anshar terdapat sesuatu.” (HR. Muslim)

3. Nasabnya atau Silsilah Keturunannya
Seorang dan wanita juga dianjurkan untuk meminang atau menerima pinangan dengan terlebih dahulu mengetahui tentang nasabnya (silsilah keturunannya). Pasalnya keluarga berperan besar dalam mempengaruhi ilmu, akhlak dan keimanan seseorang. Jika keluarganya baik, maka bisa dipastikan anak-anaknya juga seseorang yang baik. 

Alasan kedua, di masyarakat kita yang masih awam terdapat permasalahan pelik berkaitan dengan status anak zina. Mereka menganggap bahwa jika dua orang berzina, cukup dengan menikahkan keduanya maka selesailah permasalahan. Padahal tidak demikian. Karena dalam ketentuan Islam, anak yang dilahirkan dari hasil zina tidak di-nasab-kan kepada si lelaki pezina, namun di-nasab-kan kepada ibunya. Berdasarkan hadits,

“Anak yang lahir adalah milik pemilik kasur (suami) dan pezinanya dihukum.” (HR. Bukhari)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  dalam hadist lainnya hanya menetapkan anak tersebut di-nasab-kan kepada orang yang berstatus suami dari si wanita. Me-nasab-kan anak zina tersebut kepada lelaki pezina menyelisihi tuntutan hadits ini.

Pasalnya Konsekuensinya, anak yang lahir dari hasil zina, apabila ia perempuan maka suami dari ibunya tidak boleh menjadi wali dalam pernikahannya. Jika ia menjadi wali maka pernikahannya tidak sah, jika pernikahan tidak sah lalu berhubungan intim, maka sama dengan perzinaan.  Inilah yang membuat seorang lelaki ketika meminang calon istrinya perlu mengetahui nasab tersebut. 

4. Setara Hartanya
Rasulullah juga menganjurkan agar memilih pasangan hidup yang setara dalam agama dan status sosialnya. Tidak dipungkiri banyak pernikahan yang tidak langgeng karena perbedaan ini. Salah satu hikmah dari anjuran ini adalah kesetaraan dalam agama dan kedudukan sosial dapat menjadi faktor kelanggengan rumah tangga.

Pada zaman Nabi hal ini pernah terjadi, dimana   Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu dari kalangan biasa dinikahkan dengan Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha.  wanita terpandang dan cantik. Hasilnya  pernikahan mereka pun tidak berlangsung lama. Namun dari keempat kriteria ini faktor agama lah yang seharusnya di dahulukan. Wallahu a'lam bishawab

Minggu, 03 Januari 2016

Tiga Alasan Pentingnya Rasa Cemburu dalam Rumah Tangga

Setiap suami istri tentu saja mengingingkan rumah tangga yang baik-baik saja dan dijauhkan dari segala permasalahan yang dapat merusak hubungan tersebut. Namun, terkadang masalah mulai timbul ketika ada perasaan cemburu dari salah satu pihak.

Banyak pria yang tidak mampu mengendalikan perasaan cemburunya hingga menyebabkan permasalah semakin meruncing. Namun, ada juga suami yang dapat menyembunyikan rasa cemburunya dengan diam.

Kenyataan tersebut terkadang membuat istri kecewa, karena sebenarnya mereka juga butuh untuk dicemburui suami. Tidak hanya itu, ternyata di dalam ajaran Islam juga terdapat tiga alasan penting mengapa cemburu itu harus dilakukan. Apa saja alasan tersebut? Berikut informasinya.

1. Tidak akan Masuk Surga, Seseorang yang Tidak Punya Rasa Cemburu
Alasan pertama pentingnya perasaan cemburu bagi suami dan istri adalah tidak akan masuk surga orang yang tidak memiliki perasaan cemburu. Ternyata perasaan yang satu ini juga memiliki pengaruh besar dalam kehidupan manusia di akhirat kelak.

Sabda Rasulullah SAW: “Tiga golongan yang tidak bakal masuk surga: orang yang durhaka terhadap bapak ibunya, Duyuts (Orang yang tidak mempunyai rasa cemburu), dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” ( HR. Nasai dan Hakim).

Memang haruslah demikian agar seorang mukmin mempunya sifat dan berperangai ilahiyah dan nabawiyah ini. Suami yang tidak memiliki perasaan cemburu, ia tidak dapat menjaga kehormatan istrinya. Orang yang demikian ini akan acuh tak acuh ketika mendapati sang istri berdandan dan menggunakan parfum ketika pergi ke tempat umum. Tidak hanya itu, ia akan bersikap biasa saja ketika melihat istrinya memamerkan rambutnya, memperlihatkan tubuhnya/auratnya dan berbicara dengan dibuat-bua agar menarik perhatian orang banyak.

2. Ciri Lelaki Beriman/Shaleh adalah Memiliki Rasa Cemburu
Perasaan cemburu ternyata memang harus dimiliki oleh suami, sebab salah satu ciri lelaki beriman atau shaleh itu adalah mereka yang memiliki rasa cemburu. Sabda rasulullah saw dari Abu Hurairah:

“Allah itu pencemburu dan seorang mukmin juga pencemburu, Kecemburuan Allah itu bila ada seorang hamba datang kepada-Nya dengan perbuatan yang diharamkan-Nya. (HR. Bukhari)

Dari Ibnu Mas’ud ra. Berkata, Sa’d bin Ubadah berkata, “Kalau ketahuan ada seorang lelaki bersama istri saya, akan saya potong lehernya dengan pedang sebagai sangsinya.” Bersabda rasulillah saw.: ” Herankah kalian dengan cemburunya Sa’ad itu? Ketahuilah bahwa saya lebih cemburu dari padanya. Demi Allah saya cemburu karena kecemburuan Allah terhadap perbuatan keji, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi” (HR. Bukhari)

3. Cemburu adalah Proteksi untuk Rumah Tangga
Alasan terakhir mengapa rasa cemburu itu penting adalah, cemburu merupakan proteksi untuk rumah tangga. Namun, jika cemburu tersebut tidak dapat dikendalikan maka bisa mengakibatkan rusaknya hubungan rumah tangga.

Imam Ibn Qayyim pula berkata: “Sesungguhnya asal dalam agama adalah perlunya rasa keberatan (protektif) atau kecemburuan ( terhadap ahli keluarga) , dan barangsiapa yang tiada perasaan ini maka itulah tanda tiada agama dalam dirinya, kerana perasaan cemburu ini menjaga hati dan menjaga anggota sehingga terjauh dari kejahatan dan perkara keji, tanpanya hati akan mati maka matilah juga sensitivitas anggota (terhadap perkara haram), sehingga menyebabkan tiadanya kekuatan untuk menolak kejahatan dan menghindarkannya sama sekali.

Demikianlah ulasan mengenai pentingnya rasa cemburu di dalam rumah tangga. Oleh sebab itu, para suami tunjukkanlah perasaan cemburu kepada itu. Karena hal demikian itu merupakan salah satu kebutuhan seorang istri. Ketika suami tidak bisa memenuhinya dikhawatirkan akan menyebabkan permasalahan yang besar dalam rumah tangga. Namun tetap kotrol perasaan cemburu tersebut.

Delapan Tanda Pria Bermasa Depan Cerah

Memilih pasangan untuk menjalani pernikahan ternyata bukanlah hal yang mudah. Banyak orang yang sulit menemukan orang yang tepat untuk dijadikan pasangan hidup mereka kelak. Ada banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut, salah satunya adalah tingginya kriteria yang diinginkan.

Hal seperti ini banyak terjadi di kalangan wanita. Mereka cenderung mencari pasangan yang fisiknya bagus, berasal dari keluarga terpandang dan mapan. Namun, pria dengan tipe demikian ini tentu sulit untuk ditemukan.

Akan tetapi, jika tidak bisa menemukan pria dengan kriteria demikian. Mungkin para wanita perlu melirik salah satu kriteria yang satu ini, yaitu pria yang berpotensi sukses dimasa depan. Berikut ini delapan tanda pria bermasa depan cerah yang pantas dijadikan pasangan hidup.

1. Punya Tujuan Hidup
Tanda pertama yang dimiliki oleh pria bermasa depan cerah adalah mereka yang memiliki tujuan hidup. Cari tahu mengenai tujuan hidup mereka, jika ia menjawab secara rinci apa saja rencananya dalam jangka pendek, menengah dan panjang, maka ia memiliki tujuan sangat jelas.

Tidak hanya itu, biasanya pria yang berciri demikian ia telah menyiapkan rencana cadangan untuk mengantisipasi apabila terjadi kegagalan dalam pencapaiannya. Namun, jika si pria menjawab “Kita lihat saja nanti, jalani saja hidup ini seperti air mengalir.” Itu menandakan bahwa si pria tersebut tidak memiliki tujuan hidup.

2. Mandiri
Hal selanjutnya yang harus diperhatikan, pria yang bermasa depan cerah itu adalah mereka yang mandiri. Ia tidak bergantung kepada orang lain, melainkan mengandalkan kemampuannya sendiri dalam melakukan apapun.

Pria yang demikian ini menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang bertanggung jawab atas diri sendiri bahkan juga hidup orang lain yang mereka sayangi. Tidak hanya itu, pria yang mandiri juga tidak perbah mengeluh. Sebab ia menyadari bahwa harus ada kerja keras untuk mencapai sebuah kesuksesan. Jika sudah mendapatkan pria bertipe ini, jangan sesekali berpikir untuk melepaskannya jika tidak ingin menyesal.

3. Hobi Menolong
Jika ada pria yang suka mengulurkan tangannya untuk membantu orang lain, maka pria yang demikian ini memiliki masa depan cerah untuk kehidupannya. Kebaikannya dalam menolong orang tersebut akan menjadi bekal atau tabungan untuk menuju kesuksesannya di masa depan kelak. Bisa jadi nasibnya akan berubah setelah menolong orang yang ternyata berperan penting dalam kariernya di kemudian hari. Berbanggalah jika memiliki pria yang demikian dan terus dukung ia untuk menjalankan aksi muliannya itu.

4. Bersahabat dan Berwawasan
Tanda pria dengan masa depan selanjutnya adalah mereka yang bersahabat dan berwawasan. Sikap yang demikian ini biasanya akan membuat ia mudah dalam mengambil hati banyak orang, termasuk untuk melobi orang penting yang berkaitan dengan kariernya.

Pria yang berwawasan luas juga akan mudah menarik perhatian dari orang. Tidak heran ia memiliki kualitas kepribadian yang baik, maka kesuksesan pun akan segera menghampirinya dengan segera.

5. “Family Man”
Selain bersahabat dan memiliki wawasan luas, pria yang bermasa depan cerah juga mengedepankan keluarga mereka. Pria tipe ini sangat bertanggung jwab dan menyayangi keluarga, hal inilah yang mungkin membuat mereka sangat memperhatikan perkembangan kariernya.

Ia akan senantiasa meningkatkan kariernya agar lebih baik lagi demi keluarganya. Selain itu, pria yang memiliki tanda ini cenderung setia pada pasangannya sehingga ia bisa menyeimbangkan waktu dan pikirannya untuk pasangan dan pekerjaan serta keluarganya.

6. Memiliki Investasi
Selain pria tersebut sayang terhadap keluarga, mereka yang berciri masa depan cerah juga memiliki investasi. Meskipun saat ini penghasilan mereka tidak begitu besar, namun ia tetap bisa mengatur pendapatannya tersebut dan bahkan menabungnya.

Dengan tabungannya tersebut, ia mulai milirik kepada peluang bisnis. Pria yang demikian ini biasanya akan mencapai kesuksesan karena kerja keras yang dilakukannya. Pria yang demikian patut menjadi pilihan dalam memilih pasangan karena ia sangat memikirkan masa depan.

7. Realistis dan Lurus
Tanda selanjutnya yaitu pria yang realistis dan lurus. Meskipun ia memiliki semangat yang luar biasa dalam meraih mimpi. Namun ia juga berfikir lurus dalam mencapai kesuksesan tersebut, ia tidak akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan itu semua. Sebab itu mengetahui bahwa hal ini justru bisa menghancurkan masa depan dan karirnya kelak.

Selain itu, pria tipe ini juga sadar dengan kemampuan yang dimilikinya. Ia tidak mau serakah dalam mengambil pekerjaan yang bukan bidangnya. Karena ia menyadari bahwa setiap orang memiliki kelebihannya masing-masing.

8. Optimistis dan Positif
Tanda terakhir dari orang yang memiliki masa depan cerah adalah pria yang senantiasa optimis dan berpikir positif. Ia mengetahui bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, namun ia selalu percaya diri saat berinteraksi dengan orang lain ataupun ketika diberi tanggung jawab.

Selain itu, ia juga tidak pernah berkata “tidak bisa” atau malas untuk melakukannya. Pria tipe ini selalu berpikir positif dan menganggap setiap tantangan yang datang itu pasti ada solusi dan ia percaya diri untuk menyelesaikannya.

Demikianlah ulasan mengenai delapan tanda pria bermasa depan cerah. Untuk para wanita, jika sudah menemukan pria yang demikian, jangan pernah sesekali berpikir untuk berpaling kepada orang lain yang lebih sukses. Karena pria ini juga berpotensi meraih kesuksesan jika selalu diberi dukungan.

Jumat, 01 Januari 2016

Beginilah Cara Rasululullah Mendidik Anaknya

Anak yang saleh merupakan salah satu amal jariyah bagi orang tuanya. Saat berada di alam barzah dan akhirat, doa anak saleh ini akan senantiasa menolong orangtua dari siksa. Maka sudah selayaknya orangtua menanamkan nilai-nilai keimanan sejak anak masih kecil.

Namun tidak semua orang tua mampu melakukan hal itu. Pekerjaan menumpuk serta urusan dunia yang dirasa lebih penting membuat mereka lupa mendidik anak-anaknya. Atau orang tua memang  tidak memiliki figur yang bisa dicontoh mereka dalam mendidik.

Urusan tauladan mendidik anak tentu Rasulullah SAW ahlinya. Selain menjadi Nabi dan Rasul untuk umat, Nabi Muhammad juga adalah seorang bapak bagi Fatimah dan adik-adiknya. Lantas seperti apa junjungan alam ini mendidik anak-anaknya?

Rasulullah SAW adalah sosok ayah inspiratif dalam mendidik buah hatinya. Beliau senantiasa menghadirkan suasana keluarga yang penuh dengan kehangatan, kelembutan dan cinta kasih. Tidak seperti tradisi bangsa Arab kebanyakan pada masa itu yang berprilaku kaku dan keras.

Selain itu, pada zaman tersebut masyarakat Arab juga lebih mengedepankan karisma, bagi mereka seorang lelaki itu tidak boleh menunjukkan kasih sayang secara terbuka kepada anaknya.

Berbeda dengan Rasulullah, beliau tidak segan-segan mencium putra puterinya. Hal ini kemudian membuat masyarakat Arab heran. Aqra’ bin Habis, pemuka Bani Tamim mengaku, “Demi Allah, aku mempunyai 10 orang anak, tetapi tak satu pun kuciumi di antara mereka.” Nabi pun memandangnya dan berkata, “Barang siapa yang tidak mengasihi, ia tidak akan dikasihi.”

Meskipun sangat menyayangi anaknya, tidak berarti Rasulullah bersikap lunak menyangkut urusan agama. Bagi beliau, usia dini bukan menjadi hambatan untuk memperkenalkan agama kepada buah  hatinya tersebut.

Pernah suatu hari, ketika Nabi sedang membagi-bagikan kurma sedekah, tiba-tiba Hasan mendekat lalu memungut sebutir kurma dan menyuapnya. Dengan cepat, Nabi menahan Hasan dan mengambil kurma dari kedua rahangnya. “Apa kamu tidak tahu kita ini ahlul bait yang tidak halal makan sedekah?” kata Nabi kepada bocah itu.

Bahkan, beliau juga memiliki ketegasan dan bersikap sangat adil kepada anak-anaknya. Sikap ini juga berlaku pada Fatimah, putri tercintanya. “Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad melakukan pencurian, niscaya kupotong tangannya,” ucap Nabi.

Hal tersebut membuat si gadis kecil menangis terisak sambil membersihkan kotoran untu dipunggung ayahnya. Dikisahkan oleh Abdullah bin Masud, ketika itu Nabi tengah shalat di dekat Ka’bah. Abu Jahal dan rekan-rekannya duduk di sana.

Salah satu dari mereka berkata, “Siapa di antara kalian yang mau mengambil kotoran hewan sembelihan milik Bani Fulan untuk diletakkan di punggung Muhammad SAW saat sujud?” Uqbah bin Abu Mu’ith, orang paling celaka di antara mereka, bangkit untuk melakukan usulan tersebut. Ia kembali membawa kotoran hewan dan menunggu. Ketika Rasulullah sujud, dia letakkan kotoran itu di pundak beliau. Kaum Quraisy tertawa terbahak-bahak melihatnya.

Mengetahui peristiwa tersebut membuat Fatimah az-Zahra yang masih kecilpun menangis. Ia kemudian menghampiri sang ayah dan membersihkan kotoran dari punggungnya. Setelah itu, barulah Rasulullah bangkit dari sujudnya. Kedewasaan dan rasa sayang Fatimah pada ayahnya ini membuat dirinya dijuluki “Ummu Abiha”.

Setelah kepergian Khadijah, Fatimah kemudian membantu Rasulullah melakukan pekerjaan di rumah, mengurus ayahnya dan mencurahkan segenap kasih sayang kepada beliau. Hal tersebut menunjukkan bahwa begitu eratnya hubungan antara ayah dan anak yang ditunjukkan oleh keduanya.

Demikianlah ulasan mengenai cara Rasulullah mendidik anaknya. Semoga menjadi teladan bagi ayah-ayah lainnya di dunia ini. Didiklah anak sesuai dengan syariat agama Islam yang telah diperintahkan Allah dan Rasulu-Nya. Agar anak-anak tersebut kelak menjadi hamba Allah yang bertakwa dan menjadi orang yang shaleh.